Pertumbuhan dan Perkembangan organ reproduksi

  1. Pertumbuhan dan Perkembangan organ reproduksi

Pertumbuhan dan perkembangan organ gonad ini berasal dari lapisan mesoderm intermediate pada minggu ke-5. Pada pria perkembangan system reproduksinya berasal dari duktus mesonephros (Wollfian), sedangkan pada wanita berasal dari duktus paramesonepros (Mullerian) yang berkembang di sebelah lateral duktus mesoneprhos. Perkembangan kedua saluran ini akan bermuara pada sinus urogenitalia.

Penentuan jenis kelamin pada manusia di atur oleh kromosom Y yang menentukan jenis kelamin pria. Pada kromosom ini terdapat gen SRY  (sex determining of Y chromosome). Apabila gen SRY ini di ekspresikan pada saat perkembangan, maka protein yang dihasilkan akan memicu sel sertoli untuk berdiferensiasi menjadi jaringan gonad pada minggu ke-7. Perkembangan sel sertoli ini akan mensekresikan hormone Mullerian-inhibiting hormone (MIH) yang akan menyebabkan duktus paramesonefros mengalami apoptosis. Maka dari itu, duktus ini tidak ikut berkontribusi pada system reproduksi laki-laki. Stimulasi dari hCG (Human Chorionic gonadotropin) akan menyebabkan sel-sel Leydig pada jaringan gonad mensekresikan testosterone pada minggu ke-8. Testosterone akan menstimulus perkembangan duktus mesonephros menjadi epididimis, vas deferen, duktus ejakulatorius, vesikel seminularis. Testis akan berhubungan dengan duktus mesonephros melalui serangkaian tubulus yang berasal dari tubulus seminiferus. Kelenjar prostat dan bulbouretral merupakan bagian endodermal dari uretra.

Pada wanita, terdiri dari dua kromosom X dan tanpa kromosom Y. oleh karena itu, tidak terdapat gen SRY, sehingga duktus paramesonephros bisa berkembang dengan baik. Bagian distal dari duktus paramesonephros ini akan berfusi membentuk uterus dan vagina, sedangkan bagian yang tidak berfusi akan berkembang menjadi tuba fallopi. Duktus mesonephros tidak berkembang diakibatkan tidak adanya hormone testosterone.

Perkembangan embrio genitalia eksterna pada pria dan wanita (penis, skrotum, clitoris, labia, vagina) juga akan berdiferensiasi sampai umur kira-kira 8 minggu. Sebelum berdiferensiasi, embrio pada pria dan wanita terdapat genital tubercle, yang terdiri dari uretral groove, sepasang uretral fold dan labioscrotal swelling.

Pada embrio pria, beberapa testosterone akan dikonversikan menjadi dihydrotestosteron yang menstimulasi perkembangan uretra, prostat, organ genital eksterna (skrotum dan penis).

genital tubercle akan memanjang dan berkembang menjadi penis. Fusi antara uretral fold akan membentuk spongy (penil) uretra. Labiosrotal swelling akan berkembang menjadi skrotum.

Karena pada wanita tidak terdapat dehidrosteron, maka genital tubercle ini akan berkembang menjadi clitoris. Uretral fold tetap terbuka membentuk labium minora, dan labioscrotalnya berkembang menjadi labium mayora.

  1. Pertumbuhan dan Perkembangan organ reproduksi

Pertumbuhan dan perkembangan organ gonad ini berasal dari lapisan mesoderm intermediate pada minggu ke-5. Pada pria perkembangan system reproduksinya berasal dari duktus mesonephros (Wollfian), sedangkan pada wanita berasal dari duktus paramesonepros (Mullerian) yang berkembang di sebelah lateral duktus mesoneprhos. Perkembangan kedua saluran ini akan bermuara pada sinus urogenitalia.

Penentuan jenis kelamin pada manusia di atur oleh kromosom Y yang menentukan jenis kelamin pria. Pada kromosom ini terdapat gen SRY  (sex determining of Y chromosome). Apabila gen SRY ini di ekspresikan pada saat perkembangan, maka protein yang dihasilkan akan memicu sel sertoli untuk berdiferensiasi menjadi jaringan gonad pada minggu ke-7. Perkembangan sel sertoli ini akan mensekresikan hormone Mullerian-inhibiting hormone (MIH) yang akan menyebabkan duktus paramesonefros mengalami apoptosis. Maka dari itu, duktus ini tidak ikut berkontribusi pada system reproduksi laki-laki. Stimulasi dari hCG (Human Chorionic gonadotropin) akan menyebabkan sel-sel Leydig pada jaringan gonad mensekresikan testosterone pada minggu ke-8. Testosterone akan menstimulus perkembangan duktus mesonephros menjadi epididimis, vas deferen, duktus ejakulatorius, vesikel seminularis. Testis akan berhubungan dengan duktus mesonephros melalui serangkaian tubulus yang berasal dari tubulus seminiferus. Kelenjar prostat dan bulbouretral merupakan bagian endodermal dari uretra.

Pada wanita, terdiri dari dua kromosom X dan tanpa kromosom Y. oleh karena itu, tidak terdapat gen SRY, sehingga duktus paramesonephros bisa berkembang dengan baik. Bagian distal dari duktus paramesonephros ini akan berfusi membentuk uterus dan vagina, sedangkan bagian yang tidak berfusi akan berkembang menjadi tuba fallopi. Duktus mesonephros tidak berkembang diakibatkan tidak adanya hormone testosterone.

Perkembangan embrio genitalia eksterna pada pria dan wanita (penis, skrotum, clitoris, labia, vagina) juga akan berdiferensiasi sampai umur kira-kira 8 minggu. Sebelum berdiferensiasi, embrio pada pria dan wanita terdapat genital tubercle, yang terdiri dari uretral groove, sepasang uretral fold dan labioscrotal swelling.

Pada embrio pria, beberapa testosterone akan dikonversikan menjadi dihydrotestosteron yang menstimulasi perkembangan uretra, prostat, organ genital eksterna (skrotum dan penis).

genital tubercle akan memanjang dan berkembang menjadi penis. Fusi antara uretral fold akan membentuk spongy (penil) uretra. Labiosrotal swelling akan berkembang menjadi skrotum.

Karena pada wanita tidak terdapat dehidrosteron, maka genital tubercle ini akan berkembang menjadi clitoris. Uretral fold tetap terbuka membentuk labium minora, dan labioscrotalnya berkembang menjadi labium mayora.

(Tortora, J Gerrard et all. 2009. Principles of Anatomy and Physiology. Asia: Willey)

Pada pertumbuhan remaja wanita, ukuran garis tengah transversal dari pelvis akan bertambah, kemudian payudara akan membesar, terjadi pigmentasi putting susu, perubahan sekresi vagina. Segera sesudah itu, mulai tumbuh rambut di daerah pubis dan akhirnya di bagian aksila.ovarium akan bertambah besar dan berat dengan lambat mulai dari lahir hingga menarche, kemudian tumbuh lebih cepat antara menarche dan pubertas. Pada saat pubertas, ovarium berbentuk lonjong dan mempunyai permukaan yang rata. Bila perkembangan folikel ovarium sudah cukup hingga menghasilkan estrogen, maka pertumbuahan uterus mulai cepat, terutama bagian korpusnya. Vagina bertambah lebar dan dalam, dindingnya mulai mempunyai lipatan transversal. Tuba fallopi manjadi matang serta menjadi panjang dan lebar. Pada dinding epithelium tumbuh sel cilia dan mulai ada peristaltic yang lambat.

Pada anak pria, pertama-tama testis dan penis akan bertambah besar, kemudian terjadi perbesaran mammae yang sementara pada awal pubertas. Selanjutnya timbul rabut di daerah pubis, ketiak dan muka, terjadi perubahan suara. Timbul spermatozoa dalam sekresi seminalis.

(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2007. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: InfoMedika)

  1. Tumbuh Kembang Remaja

Pertumbuhan pada masa remaja ditinjau dari tinggi dan berat badan merupakan akselerasi yang tinggi sehingga hapir mencapai 2 kali lipat, mendahului tercapainya kematangan seksual (pubertas) dan kemudian menjadi semakin lambat sampai berhentinya pertumbuhan tulang.

Pubertas adalah suatu keadaan saat tercapainya kematangan seksuil atau saat terjadinya kemungkinan berkembang biak. Terjadinya pubertas tiap orang itu sangat bervariasi. Pubertas merupakan tahap perubahan dari anak-anak menjadi dewasa yang biasanya dimulai dari umur 10 tahun sampai 20 tahun. Perubahan penampakan yang terjadi pada remaja yang mengalami pubertas adalah pertumbuhan tubuh, kematangan psiological, dan kemampuan reproduksi. Biasanya pubertas yeng terjadi pada wanita berkisar pada umur 8-12 tahun, sedangkan pada pria terjadi sekitar umur 10-14 tahun.

  1. Perubahan physiological

Saat pubertas, hormone-hormon dalam tubuh akan meningkat dan memicu terjadinya beberapa perubahan fisik. Pertumbuhan terjadi sangat cepat dan timbul cirri-ciri seks sekunder. Terdapat perbedaan cirri fisik antara pria dan wanita

  1. Perkembangan payudara

Ukuran payudara dan proses terbentuknya payudara pada setiap wanita itu berbeda-beda, biasanya terjadi pada umur 8-12 tahun. Biasanya pada wanita, pertumbuhan payudara terjadi lebih dulu pada salah satu sisinya dan diikuti payudara sisi yang lain.

  1. Menstruasi

Pada umunya, wanita mengalami menarche pada umur 10-15 tahun. Selama masa pubertas ini, system reproduksi dipengaruhi oleh hormone-hormon, telur yang telah matang akan dilepaskan secara periodic dan dalam waktu yang sama hormone akan menstimulus uterus untuk membentuk lebih banyak saluran darah dan membuat uterus lebih tebal. Apabila saat telur dilepaskan dibuahi oleh sel sperma, maka sel telur ini akan berimplantasi pada dinding uterus dan akan berkembang menjadi bayi.

Namun, bila sel telur tersebut tidak dibuahi oleh sel sperma, maka uterus akan berhenti menebal dan akan melepaskan jaringan-jaringannya. Darah, sel residu, dan mucus akan mengalir keluar lewat vagina selama 3 sampai 7 hari.

Pada awl menstruasi, wanita akan melewati periode menstruasi yang tidak teratur selama 2 sampai 3 bulan yang dipengaruhi oleh system reproduksi yang belum matur.

  1. Mimpi basah

Saat pria mengalami masa pubertas, maka testis akan menghasilkan sperma dalam jumlah yang banyak. Ketika tidur, inhibisi dari system saraf pusat akan berelaksasi dan sperma akan dikeluarkan ketika penis dipicu oleh perpindahan tubuh atau oleh tekanan akibat pakaian dalam yang ketat atau ketika pria bermimpi sex. Semua kejadian ini dinamakan mimpi basah. Hal ini normal bagi pria dan tidak membahayakan tubuh.timbulnya mimpi basah pada setiap orang berbeda-beda.

Gangguan Pubertas

Pubertas pada setiap orang berbeda-beda. Apabila seseorang yang mengalami pubertas lebih cepat dari biasanya, maka pubertas tersebut dinamakan pubertas prekok. Dan sebaliknya apabila pubertas yang dialami lebih lama maka dinamakan pubertas terlambat.

  1. Pengaruh stress terhadap pubertas

Stress merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dan perilaku dari manusia

yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan

eksternal. Sedangkan stressor adalah kejadian, situasi, seseorang atau suatu

  • obyek yang dilihat sebagai unsur yang menimbulkan stress dan menyebabkan reaksi stress sebagai hasilnya.

Gangguan pada pola menstruasi ini melibatkan mekanisme regulasi

intergratif yang mempengaruhi proses biokimia dan seluler seluruh tubuh

termasuk otak dan psikologis. Pengaruh otak dalam reaksi hormonal terjadi

melalui jalur hipotalamus-hipofisis-ovarium yang meliputi multiefek dan

mekanisme kontrol umpan balik. Pada  keadaan stress terjadi aktivasi pada

amygdala pada sistem limbik. Sistem ini akan menstimulasi pelepasan hormon dari hipotalamus yaitu corticotropic releasing hormone (CRH).  Hormon ini secara langsung akan menghambat sekresi GnRH hipotalamus dari tempat produksinya di nukleus arkuata.  Proses ini kemungkinan terjadi melalui penambahan sekresi opioid endogen.  Peningkatan CRH akan menstimulasi pelepasan endorfin dan adrenocorticotropic hormone (ACTH) ke dalam darah.  Endorfin sendiri diketahui merupakan opiat endogen yang peranannya terbukti dapat mengurangi rasa nyeri.  Sedangkan ACTH dirangsang oleh CRH secara bergelombang dengan ritme diurnal.  Peningkatan kadar ACTH akan menyebabkan peningkatan pada kadar kortisol darah.  Pada wanita dengan gejala amenore hipotalamik menunjukkan keadaan hiperkortisolisme yang disebabkan adanya peningkatan CRH dan ACTH.  Hormon-hormon tersebut secara langsung dan tidak langsung menyebabkan penurunan kadar GnRH, dimana melalui jalan ini maka stress menyebabkan gangguan menstruasi.

Gejala klinis yang tampak terutama adalah amenore, selain itu dapat juga

berupa anovulasi, atau fase luteal yang inadekuat.  Gejala klinis yang timbul ini

tergantung pada derajat penekanan pada GnRH.  Gejala-gejala ini umumnya

bersifat sementara  dan biasanya akan kembali normal apabila stress yang ada

        T3

bisa diatasi.

  1. Pertumbuhan dan Perkembangan organ reproduksi

Pertumbuhan dan perkembangan organ gonad ini berasal dari lapisan mesoderm intermediate pada minggu ke-5. Pada pria perkembangan system reproduksinya berasal dari duktus mesonephros (Wollfian), sedangkan pada wanita berasal dari duktus paramesonepros (Mullerian) yang berkembang di sebelah lateral duktus mesoneprhos. Perkembangan kedua saluran ini akan bermuara pada sinus urogenitalia.

Penentuan jenis kelamin pada manusia di atur oleh kromosom Y yang menentukan jenis kelamin pria. Pada kromosom ini terdapat gen SRY  (sex determining of Y chromosome). Apabila gen SRY ini di ekspresikan pada saat perkembangan, maka protein yang dihasilkan akan memicu sel sertoli untuk berdiferensiasi menjadi jaringan gonad pada minggu ke-7. Perkembangan sel sertoli ini akan mensekresikan hormone Mullerian-inhibiting hormone (MIH) yang akan menyebabkan duktus paramesonefros mengalami apoptosis. Maka dari itu, duktus ini tidak ikut berkontribusi pada system reproduksi laki-laki. Stimulasi dari hCG (Human Chorionic gonadotropin) akan menyebabkan sel-sel Leydig pada jaringan gonad mensekresikan testosterone pada minggu ke-8. Testosterone akan menstimulus perkembangan duktus mesonephros menjadi epididimis, vas deferen, duktus ejakulatorius, vesikel seminularis. Testis akan berhubungan dengan duktus mesonephros melalui serangkaian tubulus yang berasal dari tubulus seminiferus. Kelenjar prostat dan bulbouretral merupakan bagian endodermal dari uretra.

Pada wanita, terdiri dari dua kromosom X dan tanpa kromosom Y. oleh karena itu, tidak terdapat gen SRY, sehingga duktus paramesonephros bisa berkembang dengan baik. Bagian distal dari duktus paramesonephros ini akan berfusi membentuk uterus dan vagina, sedangkan bagian yang tidak berfusi akan berkembang menjadi tuba fallopi. Duktus mesonephros tidak berkembang diakibatkan tidak adanya hormone testosterone.

Perkembangan embrio genitalia eksterna pada pria dan wanita (penis, skrotum, clitoris, labia, vagina) juga akan berdiferensiasi sampai umur kira-kira 8 minggu. Sebelum berdiferensiasi, embrio pada pria dan wanita terdapat genital tubercle, yang terdiri dari uretral groove, sepasang uretral fold dan labioscrotal swelling.

Pada embrio pria, beberapa testosterone akan dikonversikan menjadi dihydrotestosteron yang menstimulasi perkembangan uretra, prostat, organ genital eksterna (skrotum dan penis).

genital tubercle akan memanjang dan berkembang menjadi penis. Fusi antara uretral fold akan membentuk spongy (penil) uretra. Labiosrotal swelling akan berkembang menjadi skrotum.

Karena pada wanita tidak terdapat dehidrosteron, maka genital tubercle ini akan berkembang menjadi clitoris. Uretral fold tetap terbuka membentuk labium minora, dan labioscrotalnya berkembang menjadi labium mayora.

(Tortora, J Gerrard et all. 2009. Principles of Anatomy and Physiology. Asia: Willey)

Pada pertumbuhan remaja wanita, ukuran garis tengah transversal dari pelvis akan bertambah, kemudian payudara akan membesar, terjadi pigmentasi putting susu, perubahan sekresi vagina. Segera sesudah itu, mulai tumbuh rambut di daerah pubis dan akhirnya di bagian aksila.ovarium akan bertambah besar dan berat dengan lambat mulai dari lahir hingga menarche, kemudian tumbuh lebih cepat antara menarche dan pubertas. Pada saat pubertas, ovarium berbentuk lonjong dan mempunyai permukaan yang rata. Bila perkembangan folikel ovarium sudah cukup hingga menghasilkan estrogen, maka pertumbuahan uterus mulai cepat, terutama bagian korpusnya. Vagina bertambah lebar dan dalam, dindingnya mulai mempunyai lipatan transversal. Tuba fallopi manjadi matang serta menjadi panjang dan lebar. Pada dinding epithelium tumbuh sel cilia dan mulai ada peristaltic yang lambat.

Pada anak pria, pertama-tama testis dan penis akan bertambah besar, kemudian terjadi perbesaran mammae yang sementara pada awal pubertas. Selanjutnya timbul rabut di daerah pubis, ketiak dan muka, terjadi perubahan suara. Timbul spermatozoa dalam sekresi seminalis.

(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2007. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: InfoMedika)

  1. Tumbuh Kembang Remaja

Pertumbuhan pada masa remaja ditinjau dari tinggi dan berat badan merupakan akselerasi yang tinggi sehingga hapir mencapai 2 kali lipat, mendahului tercapainya kematangan seksual (pubertas) dan kemudian menjadi semakin lambat sampai berhentinya pertumbuhan tulang.

Pubertas adalah suatu keadaan saat tercapainya kematangan seksuil atau saat terjadinya kemungkinan berkembang biak. Terjadinya pubertas tiap orang itu sangat bervariasi. Pubertas merupakan tahap perubahan dari anak-anak menjadi dewasa yang biasanya dimulai dari umur 10 tahun sampai 20 tahun. Perubahan penampakan yang terjadi pada remaja yang mengalami pubertas adalah pertumbuhan tubuh, kematangan psiological, dan kemampuan reproduksi. Biasanya pubertas yeng terjadi pada wanita berkisar pada umur 8-12 tahun, sedangkan pada pria terjadi sekitar umur 10-14 tahun.

  1. Perubahan physiological

Saat pubertas, hormone-hormon dalam tubuh akan meningkat dan memicu terjadinya beberapa perubahan fisik. Pertumbuhan terjadi sangat cepat dan timbul cirri-ciri seks sekunder. Terdapat perbedaan cirri fisik antara pria dan wanita

  1. Perkembangan payudara

Ukuran payudara dan proses terbentuknya payudara pada setiap wanita itu berbeda-beda, biasanya terjadi pada umur 8-12 tahun. Biasanya pada wanita, pertumbuhan payudara terjadi lebih dulu pada salah satu sisinya dan diikuti payudara sisi yang lain.

  1. Menstruasi

Pada umunya, wanita mengalami menarche pada umur 10-15 tahun. Selama masa pubertas ini, system reproduksi dipengaruhi oleh hormone-hormon, telur yang telah matang akan dilepaskan secara periodic dan dalam waktu yang sama hormone akan menstimulus uterus untuk membentuk lebih banyak saluran darah dan membuat uterus lebih tebal. Apabila saat telur dilepaskan dibuahi oleh sel sperma, maka sel telur ini akan berimplantasi pada dinding uterus dan akan berkembang menjadi bayi.

Namun, bila sel telur tersebut tidak dibuahi oleh sel sperma, maka uterus akan berhenti menebal dan akan melepaskan jaringan-jaringannya. Darah, sel residu, dan mucus akan mengalir keluar lewat vagina selama 3 sampai 7 hari.

Pada awl menstruasi, wanita akan melewati periode menstruasi yang tidak teratur selama 2 sampai 3 bulan yang dipengaruhi oleh system reproduksi yang belum matur.

  1. Mimpi basah

Saat pria mengalami masa pubertas, maka testis akan menghasilkan sperma dalam jumlah yang banyak. Ketika tidur, inhibisi dari system saraf pusat akan berelaksasi dan sperma akan dikeluarkan ketika penis dipicu oleh perpindahan tubuh atau oleh tekanan akibat pakaian dalam yang ketat atau ketika pria bermimpi sex. Semua kejadian ini dinamakan mimpi basah. Hal ini normal bagi pria dan tidak membahayakan tubuh.timbulnya mimpi basah pada setiap orang berbeda-beda.

Gangguan Pubertas

Pubertas pada setiap orang berbeda-beda. Apabila seseorang yang mengalami pubertas lebih cepat dari biasanya, maka pubertas tersebut dinamakan pubertas prekok. Dan sebaliknya apabila pubertas yang dialami lebih lama maka dinamakan pubertas terlambat.

  1. Pengaruh stress terhadap pubertas

Stress merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dan perilaku dari manusia

yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan

eksternal. Sedangkan stressor adalah kejadian, situasi, seseorang atau suatu

  • obyek yang dilihat sebagai unsur yang menimbulkan stress dan menyebabkan reaksi stress sebagai hasilnya.

Gangguan pada pola menstruasi ini melibatkan mekanisme regulasi

intergratif yang mempengaruhi proses biokimia dan seluler seluruh tubuh

termasuk otak dan psikologis. Pengaruh otak dalam reaksi hormonal terjadi

melalui jalur hipotalamus-hipofisis-ovarium yang meliputi multiefek dan

mekanisme kontrol umpan balik. Pada  keadaan stress terjadi aktivasi pada

amygdala pada sistem limbik. Sistem ini akan menstimulasi pelepasan hormon dari hipotalamus yaitu corticotropic releasing hormone (CRH).  Hormon ini secara langsung akan menghambat sekresi GnRH hipotalamus dari tempat produksinya di nukleus arkuata.  Proses ini kemungkinan terjadi melalui penambahan sekresi opioid endogen.  Peningkatan CRH akan menstimulasi pelepasan endorfin dan adrenocorticotropic hormone (ACTH) ke dalam darah.  Endorfin sendiri diketahui merupakan opiat endogen yang peranannya terbukti dapat mengurangi rasa nyeri.  Sedangkan ACTH dirangsang oleh CRH secara bergelombang dengan ritme diurnal.  Peningkatan kadar ACTH akan menyebabkan peningkatan pada kadar kortisol darah.  Pada wanita dengan gejala amenore hipotalamik menunjukkan keadaan hiperkortisolisme yang disebabkan adanya peningkatan CRH dan ACTH.  Hormon-hormon tersebut secara langsung dan tidak langsung menyebabkan penurunan kadar GnRH, dimana melalui jalan ini maka stress menyebabkan gangguan menstruasi.

Gejala klinis yang tampak terutama adalah amenore, selain itu dapat juga

berupa anovulasi, atau fase luteal yang inadekuat.  Gejala klinis yang timbul ini

tergantung pada derajat penekanan pada GnRH.  Gejala-gejala ini umumnya

bersifat sementara  dan biasanya akan kembali normal apabila stress yang ada

        T3

bisa diatasi.

(Tortora, J Gerrard et all. 2009. Principles of Anatomy and Physiology. Asia: Willey)

Pada pertumbuhan remaja wanita, ukuran garis tengah transversal dari pelvis akan bertambah, kemudian payudara akan membesar, terjadi pigmentasi putting susu, perubahan sekresi vagina. Segera sesudah itu, mulai tumbuh rambut di daerah pubis dan akhirnya di bagian aksila.ovarium akan bertambah besar dan berat dengan lambat mulai dari lahir hingga menarche, kemudian tumbuh lebih cepat antara menarche dan pubertas. Pada saat pubertas, ovarium berbentuk lonjong dan mempunyai permukaan yang rata. Bila perkembangan folikel ovarium sudah cukup hingga menghasilkan estrogen, maka pertumbuahan uterus mulai cepat, terutama bagian korpusnya. Vagina bertambah lebar dan dalam, dindingnya mulai mempunyai lipatan transversal. Tuba fallopi manjadi matang serta menjadi panjang dan lebar. Pada dinding epithelium tumbuh sel cilia dan mulai ada peristaltic yang lambat.

Pada anak pria, pertama-tama testis dan penis akan bertambah besar, kemudian terjadi perbesaran mammae yang sementara pada awal pubertas. Selanjutnya timbul rabut di daerah pubis, ketiak dan muka, terjadi perubahan suara. Timbul spermatozoa dalam sekresi seminalis.

(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2007. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: InfoMedika)

  1. Tumbuh Kembang Remaja

Pertumbuhan pada masa remaja ditinjau dari tinggi dan berat badan merupakan akselerasi yang tinggi sehingga hapir mencapai 2 kali lipat, mendahului tercapainya kematangan seksual (pubertas) dan kemudian menjadi semakin lambat sampai berhentinya pertumbuhan tulang.

Pubertas adalah suatu keadaan saat tercapainya kematangan seksuil atau saat terjadinya kemungkinan berkembang biak. Terjadinya pubertas tiap orang itu sangat bervariasi. Pubertas merupakan tahap perubahan dari anak-anak menjadi dewasa yang biasanya dimulai dari umur 10 tahun sampai 20 tahun. Perubahan penampakan yang terjadi pada remaja yang mengalami pubertas adalah pertumbuhan tubuh, kematangan psiological, dan kemampuan reproduksi. Biasanya pubertas yeng terjadi pada wanita berkisar pada umur 8-12 tahun, sedangkan pada pria terjadi sekitar umur 10-14 tahun.

  1. Perubahan physiological

Saat pubertas, hormone-hormon dalam tubuh akan meningkat dan memicu terjadinya beberapa perubahan fisik. Pertumbuhan terjadi sangat cepat dan timbul cirri-ciri seks sekunder. Terdapat perbedaan cirri fisik antara pria dan wanita

  1. Perkembangan payudara

Ukuran payudara dan proses terbentuknya payudara pada setiap wanita itu berbeda-beda, biasanya terjadi pada umur 8-12 tahun. Biasanya pada wanita, pertumbuhan payudara terjadi lebih dulu pada salah satu sisinya dan diikuti payudara sisi yang lain.

  1. Menstruasi

Pada umunya, wanita mengalami menarche pada umur 10-15 tahun. Selama masa pubertas ini, system reproduksi dipengaruhi oleh hormone-hormon, telur yang telah matang akan dilepaskan secara periodic dan dalam waktu yang sama hormone akan menstimulus uterus untuk membentuk lebih banyak saluran darah dan membuat uterus lebih tebal. Apabila saat telur dilepaskan dibuahi oleh sel sperma, maka sel telur ini akan berimplantasi pada dinding uterus dan akan berkembang menjadi bayi.

Namun, bila sel telur tersebut tidak dibuahi oleh sel sperma, maka uterus akan berhenti menebal dan akan melepaskan jaringan-jaringannya. Darah, sel residu, dan mucus akan mengalir keluar lewat vagina selama 3 sampai 7 hari.

Pada awl menstruasi, wanita akan melewati periode menstruasi yang tidak teratur selama 2 sampai 3 bulan yang dipengaruhi oleh system reproduksi yang belum matur.

  1. Mimpi basah

Saat pria mengalami masa pubertas, maka testis akan menghasilkan sperma dalam jumlah yang banyak. Ketika tidur, inhibisi dari system saraf pusat akan berelaksasi dan sperma akan dikeluarkan ketika penis dipicu oleh perpindahan tubuh atau oleh tekanan akibat pakaian dalam yang ketat atau ketika pria bermimpi sex. Semua kejadian ini dinamakan mimpi basah. Hal ini normal bagi pria dan tidak membahayakan tubuh.timbulnya mimpi basah pada setiap orang berbeda-beda.

Gangguan Pubertas

Pubertas pada setiap orang berbeda-beda. Apabila seseorang yang mengalami pubertas lebih cepat dari biasanya, maka pubertas tersebut dinamakan pubertas prekok. Dan sebaliknya apabila pubertas yang dialami lebih lama maka dinamakan pubertas terlambat.

  1. Pengaruh stress terhadap pubertas

Stress merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dan perilaku dari manusia

yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan

eksternal. Sedangkan stressor adalah kejadian, situasi, seseorang atau suatu

  • obyek yang dilihat sebagai unsur yang menimbulkan stress dan menyebabkan reaksi stress sebagai hasilnya.

Gangguan pada pola menstruasi ini melibatkan mekanisme regulasi

intergratif yang mempengaruhi proses biokimia dan seluler seluruh tubuh

termasuk otak dan psikologis. Pengaruh otak dalam reaksi hormonal terjadi

melalui jalur hipotalamus-hipofisis-ovarium yang meliputi multiefek dan

mekanisme kontrol umpan balik. Pada  keadaan stress terjadi aktivasi pada

amygdala pada sistem limbik. Sistem ini akan menstimulasi pelepasan hormon dari hipotalamus yaitu corticotropic releasing hormone (CRH).  Hormon ini secara langsung akan menghambat sekresi GnRH hipotalamus dari tempat produksinya di nukleus arkuata.  Proses ini kemungkinan terjadi melalui penambahan sekresi opioid endogen.  Peningkatan CRH akan menstimulasi pelepasan endorfin dan adrenocorticotropic hormone (ACTH) ke dalam darah.  Endorfin sendiri diketahui merupakan opiat endogen yang peranannya terbukti dapat mengurangi rasa nyeri.  Sedangkan ACTH dirangsang oleh CRH secara bergelombang dengan ritme diurnal.  Peningkatan kadar ACTH akan menyebabkan peningkatan pada kadar kortisol darah.  Pada wanita dengan gejala amenore hipotalamik menunjukkan keadaan hiperkortisolisme yang disebabkan adanya peningkatan CRH dan ACTH.  Hormon-hormon tersebut secara langsung dan tidak langsung menyebabkan penurunan kadar GnRH, dimana melalui jalan ini maka stress menyebabkan gangguan menstruasi.

Gejala klinis yang tampak terutama adalah amenore, selain itu dapat juga

berupa anovulasi, atau fase luteal yang inadekuat.  Gejala klinis yang timbul ini

tergantung pada derajat penekanan pada GnRH.  Gejala-gejala ini umumnya

bersifat sementara  dan biasanya akan kembali normal apabila stress yang ada

        T3

bisa diatasi.

About medicalcom

medical
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s