Pertumbuhan dan Perkembangan organ reproduksi

  1. Pertumbuhan dan Perkembangan organ reproduksi

Pertumbuhan dan perkembangan organ gonad ini berasal dari lapisan mesoderm intermediate pada minggu ke-5. Pada pria perkembangan system reproduksinya berasal dari duktus mesonephros (Wollfian), sedangkan pada wanita berasal dari duktus paramesonepros (Mullerian) yang berkembang di sebelah lateral duktus mesoneprhos. Perkembangan kedua saluran ini akan bermuara pada sinus urogenitalia.

Penentuan jenis kelamin pada manusia di atur oleh kromosom Y yang menentukan jenis kelamin pria. Pada kromosom ini terdapat gen SRY  (sex determining of Y chromosome). Apabila gen SRY ini di ekspresikan pada saat perkembangan, maka protein yang dihasilkan akan memicu sel sertoli untuk berdiferensiasi menjadi jaringan gonad pada minggu ke-7. Perkembangan sel sertoli ini akan mensekresikan hormone Mullerian-inhibiting hormone (MIH) yang akan menyebabkan duktus paramesonefros mengalami apoptosis. Maka dari itu, duktus ini tidak ikut berkontribusi pada system reproduksi laki-laki. Stimulasi dari hCG (Human Chorionic gonadotropin) akan menyebabkan sel-sel Leydig pada jaringan gonad mensekresikan testosterone pada minggu ke-8. Testosterone akan menstimulus perkembangan duktus mesonephros menjadi epididimis, vas deferen, duktus ejakulatorius, vesikel seminularis. Testis akan berhubungan dengan duktus mesonephros melalui serangkaian tubulus yang berasal dari tubulus seminiferus. Kelenjar prostat dan bulbouretral merupakan bagian endodermal dari uretra.

Pada wanita, terdiri dari dua kromosom X dan tanpa kromosom Y. oleh karena itu, tidak terdapat gen SRY, sehingga duktus paramesonephros bisa berkembang dengan baik. Bagian distal dari duktus paramesonephros ini akan berfusi membentuk uterus dan vagina, sedangkan bagian yang tidak berfusi akan berkembang menjadi tuba fallopi. Duktus mesonephros tidak berkembang diakibatkan tidak adanya hormone testosterone.

Perkembangan embrio genitalia eksterna pada pria dan wanita (penis, skrotum, clitoris, labia, vagina) juga akan berdiferensiasi sampai umur kira-kira 8 minggu. Sebelum berdiferensiasi, embrio pada pria dan wanita terdapat genital tubercle, yang terdiri dari uretral groove, sepasang uretral fold dan labioscrotal swelling.

Pada embrio pria, beberapa testosterone akan dikonversikan menjadi dihydrotestosteron yang menstimulasi perkembangan uretra, prostat, organ genital eksterna (skrotum dan penis).

genital tubercle akan memanjang dan berkembang menjadi penis. Fusi antara uretral fold akan membentuk spongy (penil) uretra. Labiosrotal swelling akan berkembang menjadi skrotum.

Karena pada wanita tidak terdapat dehidrosteron, maka genital tubercle ini akan berkembang menjadi clitoris. Uretral fold tetap terbuka membentuk labium minora, dan labioscrotalnya berkembang menjadi labium mayora.

  1. Pertumbuhan dan Perkembangan organ reproduksi

Pertumbuhan dan perkembangan organ gonad ini berasal dari lapisan mesoderm intermediate pada minggu ke-5. Pada pria perkembangan system reproduksinya berasal dari duktus mesonephros (Wollfian), sedangkan pada wanita berasal dari duktus paramesonepros (Mullerian) yang berkembang di sebelah lateral duktus mesoneprhos. Perkembangan kedua saluran ini akan bermuara pada sinus urogenitalia.

Penentuan jenis kelamin pada manusia di atur oleh kromosom Y yang menentukan jenis kelamin pria. Pada kromosom ini terdapat gen SRY  (sex determining of Y chromosome). Apabila gen SRY ini di ekspresikan pada saat perkembangan, maka protein yang dihasilkan akan memicu sel sertoli untuk berdiferensiasi menjadi jaringan gonad pada minggu ke-7. Perkembangan sel sertoli ini akan mensekresikan hormone Mullerian-inhibiting hormone (MIH) yang akan menyebabkan duktus paramesonefros mengalami apoptosis. Maka dari itu, duktus ini tidak ikut berkontribusi pada system reproduksi laki-laki. Stimulasi dari hCG (Human Chorionic gonadotropin) akan menyebabkan sel-sel Leydig pada jaringan gonad mensekresikan testosterone pada minggu ke-8. Testosterone akan menstimulus perkembangan duktus mesonephros menjadi epididimis, vas deferen, duktus ejakulatorius, vesikel seminularis. Testis akan berhubungan dengan duktus mesonephros melalui serangkaian tubulus yang berasal dari tubulus seminiferus. Kelenjar prostat dan bulbouretral merupakan bagian endodermal dari uretra.

Pada wanita, terdiri dari dua kromosom X dan tanpa kromosom Y. oleh karena itu, tidak terdapat gen SRY, sehingga duktus paramesonephros bisa berkembang dengan baik. Bagian distal dari duktus paramesonephros ini akan berfusi membentuk uterus dan vagina, sedangkan bagian yang tidak berfusi akan berkembang menjadi tuba fallopi. Duktus mesonephros tidak berkembang diakibatkan tidak adanya hormone testosterone.

Perkembangan embrio genitalia eksterna pada pria dan wanita (penis, skrotum, clitoris, labia, vagina) juga akan berdiferensiasi sampai umur kira-kira 8 minggu. Sebelum berdiferensiasi, embrio pada pria dan wanita terdapat genital tubercle, yang terdiri dari uretral groove, sepasang uretral fold dan labioscrotal swelling.

Pada embrio pria, beberapa testosterone akan dikonversikan menjadi dihydrotestosteron yang menstimulasi perkembangan uretra, prostat, organ genital eksterna (skrotum dan penis).

genital tubercle akan memanjang dan berkembang menjadi penis. Fusi antara uretral fold akan membentuk spongy (penil) uretra. Labiosrotal swelling akan berkembang menjadi skrotum.

Karena pada wanita tidak terdapat dehidrosteron, maka genital tubercle ini akan berkembang menjadi clitoris. Uretral fold tetap terbuka membentuk labium minora, dan labioscrotalnya berkembang menjadi labium mayora.

(Tortora, J Gerrard et all. 2009. Principles of Anatomy and Physiology. Asia: Willey)

Pada pertumbuhan remaja wanita, ukuran garis tengah transversal dari pelvis akan bertambah, kemudian payudara akan membesar, terjadi pigmentasi putting susu, perubahan sekresi vagina. Segera sesudah itu, mulai tumbuh rambut di daerah pubis dan akhirnya di bagian aksila.ovarium akan bertambah besar dan berat dengan lambat mulai dari lahir hingga menarche, kemudian tumbuh lebih cepat antara menarche dan pubertas. Pada saat pubertas, ovarium berbentuk lonjong dan mempunyai permukaan yang rata. Bila perkembangan folikel ovarium sudah cukup hingga menghasilkan estrogen, maka pertumbuahan uterus mulai cepat, terutama bagian korpusnya. Vagina bertambah lebar dan dalam, dindingnya mulai mempunyai lipatan transversal. Tuba fallopi manjadi matang serta menjadi panjang dan lebar. Pada dinding epithelium tumbuh sel cilia dan mulai ada peristaltic yang lambat.

Pada anak pria, pertama-tama testis dan penis akan bertambah besar, kemudian terjadi perbesaran mammae yang sementara pada awal pubertas. Selanjutnya timbul rabut di daerah pubis, ketiak dan muka, terjadi perubahan suara. Timbul spermatozoa dalam sekresi seminalis.

(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2007. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: InfoMedika)

  1. Tumbuh Kembang Remaja

Pertumbuhan pada masa remaja ditinjau dari tinggi dan berat badan merupakan akselerasi yang tinggi sehingga hapir mencapai 2 kali lipat, mendahului tercapainya kematangan seksual (pubertas) dan kemudian menjadi semakin lambat sampai berhentinya pertumbuhan tulang.

Pubertas adalah suatu keadaan saat tercapainya kematangan seksuil atau saat terjadinya kemungkinan berkembang biak. Terjadinya pubertas tiap orang itu sangat bervariasi. Pubertas merupakan tahap perubahan dari anak-anak menjadi dewasa yang biasanya dimulai dari umur 10 tahun sampai 20 tahun. Perubahan penampakan yang terjadi pada remaja yang mengalami pubertas adalah pertumbuhan tubuh, kematangan psiological, dan kemampuan reproduksi. Biasanya pubertas yeng terjadi pada wanita berkisar pada umur 8-12 tahun, sedangkan pada pria terjadi sekitar umur 10-14 tahun.

  1. Perubahan physiological

Saat pubertas, hormone-hormon dalam tubuh akan meningkat dan memicu terjadinya beberapa perubahan fisik. Pertumbuhan terjadi sangat cepat dan timbul cirri-ciri seks sekunder. Terdapat perbedaan cirri fisik antara pria dan wanita

  1. Perkembangan payudara

Ukuran payudara dan proses terbentuknya payudara pada setiap wanita itu berbeda-beda, biasanya terjadi pada umur 8-12 tahun. Biasanya pada wanita, pertumbuhan payudara terjadi lebih dulu pada salah satu sisinya dan diikuti payudara sisi yang lain.

  1. Menstruasi

Pada umunya, wanita mengalami menarche pada umur 10-15 tahun. Selama masa pubertas ini, system reproduksi dipengaruhi oleh hormone-hormon, telur yang telah matang akan dilepaskan secara periodic dan dalam waktu yang sama hormone akan menstimulus uterus untuk membentuk lebih banyak saluran darah dan membuat uterus lebih tebal. Apabila saat telur dilepaskan dibuahi oleh sel sperma, maka sel telur ini akan berimplantasi pada dinding uterus dan akan berkembang menjadi bayi.

Namun, bila sel telur tersebut tidak dibuahi oleh sel sperma, maka uterus akan berhenti menebal dan akan melepaskan jaringan-jaringannya. Darah, sel residu, dan mucus akan mengalir keluar lewat vagina selama 3 sampai 7 hari.

Pada awl menstruasi, wanita akan melewati periode menstruasi yang tidak teratur selama 2 sampai 3 bulan yang dipengaruhi oleh system reproduksi yang belum matur.

  1. Mimpi basah

Saat pria mengalami masa pubertas, maka testis akan menghasilkan sperma dalam jumlah yang banyak. Ketika tidur, inhibisi dari system saraf pusat akan berelaksasi dan sperma akan dikeluarkan ketika penis dipicu oleh perpindahan tubuh atau oleh tekanan akibat pakaian dalam yang ketat atau ketika pria bermimpi sex. Semua kejadian ini dinamakan mimpi basah. Hal ini normal bagi pria dan tidak membahayakan tubuh.timbulnya mimpi basah pada setiap orang berbeda-beda.

Gangguan Pubertas

Pubertas pada setiap orang berbeda-beda. Apabila seseorang yang mengalami pubertas lebih cepat dari biasanya, maka pubertas tersebut dinamakan pubertas prekok. Dan sebaliknya apabila pubertas yang dialami lebih lama maka dinamakan pubertas terlambat.

  1. Pengaruh stress terhadap pubertas

Stress merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dan perilaku dari manusia

yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan

eksternal. Sedangkan stressor adalah kejadian, situasi, seseorang atau suatu

  • obyek yang dilihat sebagai unsur yang menimbulkan stress dan menyebabkan reaksi stress sebagai hasilnya.

Gangguan pada pola menstruasi ini melibatkan mekanisme regulasi

intergratif yang mempengaruhi proses biokimia dan seluler seluruh tubuh

termasuk otak dan psikologis. Pengaruh otak dalam reaksi hormonal terjadi

melalui jalur hipotalamus-hipofisis-ovarium yang meliputi multiefek dan

mekanisme kontrol umpan balik. Pada  keadaan stress terjadi aktivasi pada

amygdala pada sistem limbik. Sistem ini akan menstimulasi pelepasan hormon dari hipotalamus yaitu corticotropic releasing hormone (CRH).  Hormon ini secara langsung akan menghambat sekresi GnRH hipotalamus dari tempat produksinya di nukleus arkuata.  Proses ini kemungkinan terjadi melalui penambahan sekresi opioid endogen.  Peningkatan CRH akan menstimulasi pelepasan endorfin dan adrenocorticotropic hormone (ACTH) ke dalam darah.  Endorfin sendiri diketahui merupakan opiat endogen yang peranannya terbukti dapat mengurangi rasa nyeri.  Sedangkan ACTH dirangsang oleh CRH secara bergelombang dengan ritme diurnal.  Peningkatan kadar ACTH akan menyebabkan peningkatan pada kadar kortisol darah.  Pada wanita dengan gejala amenore hipotalamik menunjukkan keadaan hiperkortisolisme yang disebabkan adanya peningkatan CRH dan ACTH.  Hormon-hormon tersebut secara langsung dan tidak langsung menyebabkan penurunan kadar GnRH, dimana melalui jalan ini maka stress menyebabkan gangguan menstruasi.

Gejala klinis yang tampak terutama adalah amenore, selain itu dapat juga

berupa anovulasi, atau fase luteal yang inadekuat.  Gejala klinis yang timbul ini

tergantung pada derajat penekanan pada GnRH.  Gejala-gejala ini umumnya

bersifat sementara  dan biasanya akan kembali normal apabila stress yang ada

        T3

bisa diatasi.

  1. Pertumbuhan dan Perkembangan organ reproduksi

Pertumbuhan dan perkembangan organ gonad ini berasal dari lapisan mesoderm intermediate pada minggu ke-5. Pada pria perkembangan system reproduksinya berasal dari duktus mesonephros (Wollfian), sedangkan pada wanita berasal dari duktus paramesonepros (Mullerian) yang berkembang di sebelah lateral duktus mesoneprhos. Perkembangan kedua saluran ini akan bermuara pada sinus urogenitalia.

Penentuan jenis kelamin pada manusia di atur oleh kromosom Y yang menentukan jenis kelamin pria. Pada kromosom ini terdapat gen SRY  (sex determining of Y chromosome). Apabila gen SRY ini di ekspresikan pada saat perkembangan, maka protein yang dihasilkan akan memicu sel sertoli untuk berdiferensiasi menjadi jaringan gonad pada minggu ke-7. Perkembangan sel sertoli ini akan mensekresikan hormone Mullerian-inhibiting hormone (MIH) yang akan menyebabkan duktus paramesonefros mengalami apoptosis. Maka dari itu, duktus ini tidak ikut berkontribusi pada system reproduksi laki-laki. Stimulasi dari hCG (Human Chorionic gonadotropin) akan menyebabkan sel-sel Leydig pada jaringan gonad mensekresikan testosterone pada minggu ke-8. Testosterone akan menstimulus perkembangan duktus mesonephros menjadi epididimis, vas deferen, duktus ejakulatorius, vesikel seminularis. Testis akan berhubungan dengan duktus mesonephros melalui serangkaian tubulus yang berasal dari tubulus seminiferus. Kelenjar prostat dan bulbouretral merupakan bagian endodermal dari uretra.

Pada wanita, terdiri dari dua kromosom X dan tanpa kromosom Y. oleh karena itu, tidak terdapat gen SRY, sehingga duktus paramesonephros bisa berkembang dengan baik. Bagian distal dari duktus paramesonephros ini akan berfusi membentuk uterus dan vagina, sedangkan bagian yang tidak berfusi akan berkembang menjadi tuba fallopi. Duktus mesonephros tidak berkembang diakibatkan tidak adanya hormone testosterone.

Perkembangan embrio genitalia eksterna pada pria dan wanita (penis, skrotum, clitoris, labia, vagina) juga akan berdiferensiasi sampai umur kira-kira 8 minggu. Sebelum berdiferensiasi, embrio pada pria dan wanita terdapat genital tubercle, yang terdiri dari uretral groove, sepasang uretral fold dan labioscrotal swelling.

Pada embrio pria, beberapa testosterone akan dikonversikan menjadi dihydrotestosteron yang menstimulasi perkembangan uretra, prostat, organ genital eksterna (skrotum dan penis).

genital tubercle akan memanjang dan berkembang menjadi penis. Fusi antara uretral fold akan membentuk spongy (penil) uretra. Labiosrotal swelling akan berkembang menjadi skrotum.

Karena pada wanita tidak terdapat dehidrosteron, maka genital tubercle ini akan berkembang menjadi clitoris. Uretral fold tetap terbuka membentuk labium minora, dan labioscrotalnya berkembang menjadi labium mayora.

(Tortora, J Gerrard et all. 2009. Principles of Anatomy and Physiology. Asia: Willey)

Pada pertumbuhan remaja wanita, ukuran garis tengah transversal dari pelvis akan bertambah, kemudian payudara akan membesar, terjadi pigmentasi putting susu, perubahan sekresi vagina. Segera sesudah itu, mulai tumbuh rambut di daerah pubis dan akhirnya di bagian aksila.ovarium akan bertambah besar dan berat dengan lambat mulai dari lahir hingga menarche, kemudian tumbuh lebih cepat antara menarche dan pubertas. Pada saat pubertas, ovarium berbentuk lonjong dan mempunyai permukaan yang rata. Bila perkembangan folikel ovarium sudah cukup hingga menghasilkan estrogen, maka pertumbuahan uterus mulai cepat, terutama bagian korpusnya. Vagina bertambah lebar dan dalam, dindingnya mulai mempunyai lipatan transversal. Tuba fallopi manjadi matang serta menjadi panjang dan lebar. Pada dinding epithelium tumbuh sel cilia dan mulai ada peristaltic yang lambat.

Pada anak pria, pertama-tama testis dan penis akan bertambah besar, kemudian terjadi perbesaran mammae yang sementara pada awal pubertas. Selanjutnya timbul rabut di daerah pubis, ketiak dan muka, terjadi perubahan suara. Timbul spermatozoa dalam sekresi seminalis.

(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2007. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: InfoMedika)

  1. Tumbuh Kembang Remaja

Pertumbuhan pada masa remaja ditinjau dari tinggi dan berat badan merupakan akselerasi yang tinggi sehingga hapir mencapai 2 kali lipat, mendahului tercapainya kematangan seksual (pubertas) dan kemudian menjadi semakin lambat sampai berhentinya pertumbuhan tulang.

Pubertas adalah suatu keadaan saat tercapainya kematangan seksuil atau saat terjadinya kemungkinan berkembang biak. Terjadinya pubertas tiap orang itu sangat bervariasi. Pubertas merupakan tahap perubahan dari anak-anak menjadi dewasa yang biasanya dimulai dari umur 10 tahun sampai 20 tahun. Perubahan penampakan yang terjadi pada remaja yang mengalami pubertas adalah pertumbuhan tubuh, kematangan psiological, dan kemampuan reproduksi. Biasanya pubertas yeng terjadi pada wanita berkisar pada umur 8-12 tahun, sedangkan pada pria terjadi sekitar umur 10-14 tahun.

  1. Perubahan physiological

Saat pubertas, hormone-hormon dalam tubuh akan meningkat dan memicu terjadinya beberapa perubahan fisik. Pertumbuhan terjadi sangat cepat dan timbul cirri-ciri seks sekunder. Terdapat perbedaan cirri fisik antara pria dan wanita

  1. Perkembangan payudara

Ukuran payudara dan proses terbentuknya payudara pada setiap wanita itu berbeda-beda, biasanya terjadi pada umur 8-12 tahun. Biasanya pada wanita, pertumbuhan payudara terjadi lebih dulu pada salah satu sisinya dan diikuti payudara sisi yang lain.

  1. Menstruasi

Pada umunya, wanita mengalami menarche pada umur 10-15 tahun. Selama masa pubertas ini, system reproduksi dipengaruhi oleh hormone-hormon, telur yang telah matang akan dilepaskan secara periodic dan dalam waktu yang sama hormone akan menstimulus uterus untuk membentuk lebih banyak saluran darah dan membuat uterus lebih tebal. Apabila saat telur dilepaskan dibuahi oleh sel sperma, maka sel telur ini akan berimplantasi pada dinding uterus dan akan berkembang menjadi bayi.

Namun, bila sel telur tersebut tidak dibuahi oleh sel sperma, maka uterus akan berhenti menebal dan akan melepaskan jaringan-jaringannya. Darah, sel residu, dan mucus akan mengalir keluar lewat vagina selama 3 sampai 7 hari.

Pada awl menstruasi, wanita akan melewati periode menstruasi yang tidak teratur selama 2 sampai 3 bulan yang dipengaruhi oleh system reproduksi yang belum matur.

  1. Mimpi basah

Saat pria mengalami masa pubertas, maka testis akan menghasilkan sperma dalam jumlah yang banyak. Ketika tidur, inhibisi dari system saraf pusat akan berelaksasi dan sperma akan dikeluarkan ketika penis dipicu oleh perpindahan tubuh atau oleh tekanan akibat pakaian dalam yang ketat atau ketika pria bermimpi sex. Semua kejadian ini dinamakan mimpi basah. Hal ini normal bagi pria dan tidak membahayakan tubuh.timbulnya mimpi basah pada setiap orang berbeda-beda.

Gangguan Pubertas

Pubertas pada setiap orang berbeda-beda. Apabila seseorang yang mengalami pubertas lebih cepat dari biasanya, maka pubertas tersebut dinamakan pubertas prekok. Dan sebaliknya apabila pubertas yang dialami lebih lama maka dinamakan pubertas terlambat.

  1. Pengaruh stress terhadap pubertas

Stress merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dan perilaku dari manusia

yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan

eksternal. Sedangkan stressor adalah kejadian, situasi, seseorang atau suatu

  • obyek yang dilihat sebagai unsur yang menimbulkan stress dan menyebabkan reaksi stress sebagai hasilnya.

Gangguan pada pola menstruasi ini melibatkan mekanisme regulasi

intergratif yang mempengaruhi proses biokimia dan seluler seluruh tubuh

termasuk otak dan psikologis. Pengaruh otak dalam reaksi hormonal terjadi

melalui jalur hipotalamus-hipofisis-ovarium yang meliputi multiefek dan

mekanisme kontrol umpan balik. Pada  keadaan stress terjadi aktivasi pada

amygdala pada sistem limbik. Sistem ini akan menstimulasi pelepasan hormon dari hipotalamus yaitu corticotropic releasing hormone (CRH).  Hormon ini secara langsung akan menghambat sekresi GnRH hipotalamus dari tempat produksinya di nukleus arkuata.  Proses ini kemungkinan terjadi melalui penambahan sekresi opioid endogen.  Peningkatan CRH akan menstimulasi pelepasan endorfin dan adrenocorticotropic hormone (ACTH) ke dalam darah.  Endorfin sendiri diketahui merupakan opiat endogen yang peranannya terbukti dapat mengurangi rasa nyeri.  Sedangkan ACTH dirangsang oleh CRH secara bergelombang dengan ritme diurnal.  Peningkatan kadar ACTH akan menyebabkan peningkatan pada kadar kortisol darah.  Pada wanita dengan gejala amenore hipotalamik menunjukkan keadaan hiperkortisolisme yang disebabkan adanya peningkatan CRH dan ACTH.  Hormon-hormon tersebut secara langsung dan tidak langsung menyebabkan penurunan kadar GnRH, dimana melalui jalan ini maka stress menyebabkan gangguan menstruasi.

Gejala klinis yang tampak terutama adalah amenore, selain itu dapat juga

berupa anovulasi, atau fase luteal yang inadekuat.  Gejala klinis yang timbul ini

tergantung pada derajat penekanan pada GnRH.  Gejala-gejala ini umumnya

bersifat sementara  dan biasanya akan kembali normal apabila stress yang ada

        T3

bisa diatasi.

(Tortora, J Gerrard et all. 2009. Principles of Anatomy and Physiology. Asia: Willey)

Pada pertumbuhan remaja wanita, ukuran garis tengah transversal dari pelvis akan bertambah, kemudian payudara akan membesar, terjadi pigmentasi putting susu, perubahan sekresi vagina. Segera sesudah itu, mulai tumbuh rambut di daerah pubis dan akhirnya di bagian aksila.ovarium akan bertambah besar dan berat dengan lambat mulai dari lahir hingga menarche, kemudian tumbuh lebih cepat antara menarche dan pubertas. Pada saat pubertas, ovarium berbentuk lonjong dan mempunyai permukaan yang rata. Bila perkembangan folikel ovarium sudah cukup hingga menghasilkan estrogen, maka pertumbuahan uterus mulai cepat, terutama bagian korpusnya. Vagina bertambah lebar dan dalam, dindingnya mulai mempunyai lipatan transversal. Tuba fallopi manjadi matang serta menjadi panjang dan lebar. Pada dinding epithelium tumbuh sel cilia dan mulai ada peristaltic yang lambat.

Pada anak pria, pertama-tama testis dan penis akan bertambah besar, kemudian terjadi perbesaran mammae yang sementara pada awal pubertas. Selanjutnya timbul rabut di daerah pubis, ketiak dan muka, terjadi perubahan suara. Timbul spermatozoa dalam sekresi seminalis.

(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2007. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: InfoMedika)

  1. Tumbuh Kembang Remaja

Pertumbuhan pada masa remaja ditinjau dari tinggi dan berat badan merupakan akselerasi yang tinggi sehingga hapir mencapai 2 kali lipat, mendahului tercapainya kematangan seksual (pubertas) dan kemudian menjadi semakin lambat sampai berhentinya pertumbuhan tulang.

Pubertas adalah suatu keadaan saat tercapainya kematangan seksuil atau saat terjadinya kemungkinan berkembang biak. Terjadinya pubertas tiap orang itu sangat bervariasi. Pubertas merupakan tahap perubahan dari anak-anak menjadi dewasa yang biasanya dimulai dari umur 10 tahun sampai 20 tahun. Perubahan penampakan yang terjadi pada remaja yang mengalami pubertas adalah pertumbuhan tubuh, kematangan psiological, dan kemampuan reproduksi. Biasanya pubertas yeng terjadi pada wanita berkisar pada umur 8-12 tahun, sedangkan pada pria terjadi sekitar umur 10-14 tahun.

  1. Perubahan physiological

Saat pubertas, hormone-hormon dalam tubuh akan meningkat dan memicu terjadinya beberapa perubahan fisik. Pertumbuhan terjadi sangat cepat dan timbul cirri-ciri seks sekunder. Terdapat perbedaan cirri fisik antara pria dan wanita

  1. Perkembangan payudara

Ukuran payudara dan proses terbentuknya payudara pada setiap wanita itu berbeda-beda, biasanya terjadi pada umur 8-12 tahun. Biasanya pada wanita, pertumbuhan payudara terjadi lebih dulu pada salah satu sisinya dan diikuti payudara sisi yang lain.

  1. Menstruasi

Pada umunya, wanita mengalami menarche pada umur 10-15 tahun. Selama masa pubertas ini, system reproduksi dipengaruhi oleh hormone-hormon, telur yang telah matang akan dilepaskan secara periodic dan dalam waktu yang sama hormone akan menstimulus uterus untuk membentuk lebih banyak saluran darah dan membuat uterus lebih tebal. Apabila saat telur dilepaskan dibuahi oleh sel sperma, maka sel telur ini akan berimplantasi pada dinding uterus dan akan berkembang menjadi bayi.

Namun, bila sel telur tersebut tidak dibuahi oleh sel sperma, maka uterus akan berhenti menebal dan akan melepaskan jaringan-jaringannya. Darah, sel residu, dan mucus akan mengalir keluar lewat vagina selama 3 sampai 7 hari.

Pada awl menstruasi, wanita akan melewati periode menstruasi yang tidak teratur selama 2 sampai 3 bulan yang dipengaruhi oleh system reproduksi yang belum matur.

  1. Mimpi basah

Saat pria mengalami masa pubertas, maka testis akan menghasilkan sperma dalam jumlah yang banyak. Ketika tidur, inhibisi dari system saraf pusat akan berelaksasi dan sperma akan dikeluarkan ketika penis dipicu oleh perpindahan tubuh atau oleh tekanan akibat pakaian dalam yang ketat atau ketika pria bermimpi sex. Semua kejadian ini dinamakan mimpi basah. Hal ini normal bagi pria dan tidak membahayakan tubuh.timbulnya mimpi basah pada setiap orang berbeda-beda.

Gangguan Pubertas

Pubertas pada setiap orang berbeda-beda. Apabila seseorang yang mengalami pubertas lebih cepat dari biasanya, maka pubertas tersebut dinamakan pubertas prekok. Dan sebaliknya apabila pubertas yang dialami lebih lama maka dinamakan pubertas terlambat.

  1. Pengaruh stress terhadap pubertas

Stress merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dan perilaku dari manusia

yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan

eksternal. Sedangkan stressor adalah kejadian, situasi, seseorang atau suatu

  • obyek yang dilihat sebagai unsur yang menimbulkan stress dan menyebabkan reaksi stress sebagai hasilnya.

Gangguan pada pola menstruasi ini melibatkan mekanisme regulasi

intergratif yang mempengaruhi proses biokimia dan seluler seluruh tubuh

termasuk otak dan psikologis. Pengaruh otak dalam reaksi hormonal terjadi

melalui jalur hipotalamus-hipofisis-ovarium yang meliputi multiefek dan

mekanisme kontrol umpan balik. Pada  keadaan stress terjadi aktivasi pada

amygdala pada sistem limbik. Sistem ini akan menstimulasi pelepasan hormon dari hipotalamus yaitu corticotropic releasing hormone (CRH).  Hormon ini secara langsung akan menghambat sekresi GnRH hipotalamus dari tempat produksinya di nukleus arkuata.  Proses ini kemungkinan terjadi melalui penambahan sekresi opioid endogen.  Peningkatan CRH akan menstimulasi pelepasan endorfin dan adrenocorticotropic hormone (ACTH) ke dalam darah.  Endorfin sendiri diketahui merupakan opiat endogen yang peranannya terbukti dapat mengurangi rasa nyeri.  Sedangkan ACTH dirangsang oleh CRH secara bergelombang dengan ritme diurnal.  Peningkatan kadar ACTH akan menyebabkan peningkatan pada kadar kortisol darah.  Pada wanita dengan gejala amenore hipotalamik menunjukkan keadaan hiperkortisolisme yang disebabkan adanya peningkatan CRH dan ACTH.  Hormon-hormon tersebut secara langsung dan tidak langsung menyebabkan penurunan kadar GnRH, dimana melalui jalan ini maka stress menyebabkan gangguan menstruasi.

Gejala klinis yang tampak terutama adalah amenore, selain itu dapat juga

berupa anovulasi, atau fase luteal yang inadekuat.  Gejala klinis yang timbul ini

tergantung pada derajat penekanan pada GnRH.  Gejala-gejala ini umumnya

bersifat sementara  dan biasanya akan kembali normal apabila stress yang ada

        T3

bisa diatasi.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

status pubertas

Status pubertas

  1. Status pubertas M1A0PO

Penjelasan

  1. M adalah kode yang digunakan di klinik, kode ini terdiri dari M1, M2, M3, M4, dan M5 hal ini disesuaikan dengan stadium Tanner untuk menunjukan adanya pertumbuhan payudara.
  • 11.7 (+ 1.2) thn : payudara  dan kenaikan papilla, areola meluas                 (Tanner 2)
  • 12.4 (+ 1.1) thn:  payudara dan areola meluas, tidak ada pemisahan          (Tanner 3)
  • 12.9 (+ 1.05) thn : Areola dan papilla masih berupa struktur tambahan      (Tanner 4)
  • 14.4 (+ 1.1) thn : Nipple, areola bagian dari payudara                                     (Tanner 5)
  1. A adalah kode yang dugunakan untuk menunjukan pertumbuhan rambut ketisk (Aksila), pertumbuhannya hampir sama dengan pertumbuhan rambut pubik. Kode ini terdiri dari A1, A2, A3, dimana untuk anak dengan usia 12.9 (+ 1.05) thn menurut stadium tanner harusnya sudah tumbuh  90%.
  2. c.       P adalah kode yang digunakan untuk menunjukan pertumbuhan rambut pubik, hal ini berdasarkan stadium Tanner. Kode ini terdiri dari P1, P2, P3, P4, P5.
  • 11.7 (+ 1.2) thn : lurus, medial labia                                                         (Tanner 2)
  • 12.4 (+ 1.1) thn : Mulai keriting, jumlah meningkat,semakin gelap   (Tanner 3)
  • 12.9 (+ 1.05) thn : Kasar, keriting, lebih sedikit dari dewasa             (Tanner 4)
  • 14.4 (+ 1.1) thn : tipe dewasa, menyebar hingga selangkangan      (Tanner 5)

Interpretasi dari Status pubertas M1A0PO adalah perempuan dalam pemicu belum menunjukan adanya pertumbuhan payudara, pertumbuhan aksila yang kurang dan tidak adanya pertumbuhan rambut pubik.

 

  1. Pubertas Prekoks dan Pubertas Tertunda
    1. Klasifikasi penyebab perkembangan seksual prekoks pada manusia
Pubertas Prekoks Sejati

Konstitusional

Serebrum : ganguan yang mengenai hipotalamus posterior

Tumor

Infeksi

Kelainana perkembangan

Prekoks tidak tergantung-gonadotropin

Pseudopubertas prekoks (tanpa spermatogenesis atau perkembangan ovarium)

     Adrenal

Hiperplasia adrenal kongenital virilisasi

Tumor pensekresi androgen (pada pria)

Tumor pensekresi androgen (pada wanita)

Gonad

Tumor sel leydig testis

Tumor sel granulosa ovarium

Lain-lain

  1. Pubertas tertunda atau tidak ada

Pubertas yang belum mulai pada pria 14 tahun dan wanita umur 13 tahun. Penyebabnya dapat bermacam-macam, dari defisiensi hormon seks sampai ke berbagai (sindrom Turner, klinefelter). Pubertas tidak dapat dianggap tertunda secara patologis sampai menarche timbul pada usia 17 tahun atau testis tidak berkembang sampai usia 20 tahun

SUMBER:

  1. Matondang, Corry S, dkk. 2003. Diagnosis Fisis Pada Anak. Jakarta: CV Sagung Seto
  2. Ganong, WF. 2008. Buku Ajar FISIOLOGI KEDOKTERAN. Jakarta: EGC
a

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

tibia vara

Tibia Vara

Tibia vara idiopatik atau penyakit Blount adalah gangguan yang jarang terjadi yang ditandai oleh kelainan pertumbuhan sisi media epifisis tibia proksimal, mengakibatkan angulasi varus progresif di bawah lutut. Tibia vara dapat terjadi pada setiap kelompok umur pada anak yang sedang diklasifikasikan sebagai infantil (1-3 tahun), juvenil (4-10 tahun), dan remaja (11 tahun atau lebih tua). Bentuk juvenil dan remaja biasanya digabung sebagai sebagai tibia vara mulai lambat. Ketiga kelompok ini sama-sama memiliki karakteristik klinis yang relatif lazim, sedang perubahan radiografi pada kelompok mulai lambat kurang menonjol daripada bentuk infantil. Walaupun penyebab tibia vara yang pasti tetap belum diketahui, kelainan ini tampaknya akibat supresi pertumbuhan dari kenaikan gaya kompresif di sisi media lutut.

Manifestasi klinis

Bentuk infantil tibia vara paling lazim, terutama mengenai anak perempuan dan kulit hitam, terdapat obesitas yang nyata, sekitar 80% terjadi bilateral, tonjolan metafisis media hebat, torsi tibia interna, dan ketidaksesuaian panjang kaki. Yang khas pada bentuk juvenil dan remaja (mulai lama) didominasi laki-laki dan kulit hitam, obesitas yang nyata, tinggi normal dan di atas normal, sekitar 50% keterlibatan bilateral, deformitas genu varum progresif lambat, nyeri yang lebih merupakan keluhan utama awal, tidak teraba tonjolan metafisis medial proksimal, torsi tibia interna minimal, kelemahan ligamentum kolaterale mediale ringan, dan ketidaksesuaian panjang tungkai bawah yang ringan. Perbedaan antara tiga kelompok tampak terutama karena umur mulainya, besarnya sisa pertumbuhan, dan besar gaya kompresi medial. Kelompok infantil mempunyai potensi terbesar untuk terjadinya deformitas, dan kelompok remaja mempunyai potensi yang terkecil.

Evaluasi radiografi

Pada anak dengan tibia vara biasanya dilakukan foto rontgen AP pada kedua ekstremitas bawah dan posisi lateral pada ekstremitas yang terkena. Posisi anak berdiri dengan pembebanan memungkinkan terlihatnya deformitas klinis maksimal. Fragmentasi dengan deformitas tahap penonjolan dan penonjolan metafisis tibia medial proksimal merupakan tanda-tanda utama kelompok infantil. Perubahan dalam metafisi tibiale medialis kurang mencolok pada bentuk-bentuk mulai awal, yang ditandai oleh adanya baji bagian medial epifisis, depresi artikuler posteromedial ringan, fisis lengkung ke arah kepala serpiginosa, dan tidak ada fragmentasi atau ringan atau tonjolan metafisis medial proksimal.

Kadang-kadang, atrografi, foto resonansi magnetik, atau tomografi mungkin perlu untuk menilai meniskus, permukaan artikuler tibia proksimal, atau integritas fisis tibia proksimal. Ini biasanya dicadangkan untuk deformitas yang lebih berat.

Penanganan

Penatalaksanaan tibia vara dapat nonoperatif maupun operatif pada bentuk infantilnya. Tibia vara mulai lambat ditangani secara operatif

Nonoperatif

Penatalaksanaan ortotik dapat dipertimbangkan pada anak dengan tibia vara infantil yang berumur 3 tahun atau lebih muda dengan deformitas ringan. Pada sekitar 50% anak yang memenuhi kriteria ini, deformitas dapat terkoreksi secara memadai. Orthosis lutut-pergelangan kaki-kaki harus digunakan dengan satu medial tegak, tampa lutut bergantung. Bantalan dan tali pengikat harus ditempatkan pada femur distal dan tibia proksimal untuk mempergunakan gaya valgus. Orthosis harus dipasang 22-23 jam setiap hari. Trial maksimum 1 tahun manajemen orthotik sekarang dianjurkan. Jika koreksi total tidak dicapai sesudah 1 tahun atau jika penjelekan terjadi selama waktu ini, kemudian terindikasi osteotomi korektif.

Operatif

Indikasi penanganan bedah tibia infantil adalah usia 4 tahun atau lebih, kegagalan penatalaksanaan ortotik, dan deformitas lebih berat. Osteotomi valgus tibia proksimal dan osteotomi diafisis fibula terkait biasanya merupakan prosedur pilihan. Pada tibia vara yang mulai lambat, koreksi juga diperlukan untuk memperbaiki sumbu mekanik lutut. Pilihan bedah yang sama seperti disajikan pada anak yang lebih tua dengan tibia vara infantil dapat diterapkan pada kelompok umur ini. Osteotomi valgus tibia proksimal dan osteotomi diafisis fibula merupakan prosedur yang paling lazim.

Figure 674-9 Anteroposterior radiograph of both knees in Blount disease.

–          Behrman, Richard E, et al. 2000. Ilmu Kesehatan Anak, edisi 15. Jakarta : EGC

Dasar Terapi

  1. Terapi Diet

Terapi diet direncanakan berdasarkan individu. Hal ini bertujuan untuk membuat defisit 500-1000 kkal/hari.

  1. Aktivitas Fisik

Pada penderita obesitas, terapi harus dimulai secara perlahan dan intensitasnya sebaiknya ditingkatkan secara bertahap.

Pasien dapat memulai aktivitas fisik dengan berjalan selama 30 menit dengan jangka waktu 3 kali seminggu dan dapat ditingkatkan intensitasnya selama 45 menit dengan jangka waktu 5 kali seminggu.  Dengan regimen ini, pengeluaran energy tambahan sebanyak 100 sampai 200 kalori per hari dapat dicapai.

  1. Farmakoterapi

Sibutramine dan Orlistat merupakan obat-obatan penurun berat badan untuk penggunaan jangka panjang untuk pasien dengan indikasi obesitas. Sibutramine ditambah diet rendah kalori dan aktivitas fisik terbukti efektif menurnkan berat badan dan mempertahankannya.  Orlistat menghambat absorpsi lemak sebanyak 30 persen. (Sudoyo et.al., 2006).

Sumber : Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI

a

Posted in Uncategorized | Leave a comment

fisiologi menstruasi

Menstruasi

Jika ovum tidak dibuahi, kira-kira 2 hari sebelum akhir siklus bulanan, korpus luteum di ovarium tiba-tiba berinvolusi, dan hormon-hormon ovarium (esterogen dan progesteron) menurun dengan tajam sampai kadar sekresi yang rendah.

Menstruasi disebabkan oleh berkurangnya esterogen dan progesteron, terutama progesteron, pada akhir siklus ovarium bulanan. Efek pertama adalah penurunan rangsangan terhadap sel-sel endometrium oleh kedua hormon ini, yang diikuti dengan cepat oleh involusi endometrium sendiri menjadi kira-kira 65 persen dari ketebalan semula. Kemudian, selama 24 jam sebelum terjadinya menstruasi, pembuluh darah yang berkelok-kelok, yang mengarah ke lapisan mukosa endometrium, akan menjadi vasospastik, mungkin disebabkan oleh efek involusi, seperti pelepasan bahan vasokonstriktor – mungkin salah satu tipe vasokonstriktor prostaglandin yang terdapat dalam jumlah sangat banyak pada saat ini.

Vasospasme, penurunan zat nutrisi endometrium, dan hilangnya rangsangan hormonal menyebabkan dimulainya proses nekrosis pada endometrium, khususnya dari pembuluh darah. Sebagai akibatnya, darah akan merembes ke lapisan vaskular endometrium, dan daerah perdarahan akan bertambah besar dengan cepat dalam waktu 24 sampai 36 jam. Perlahan-lahan, lapisan nekrotik bagian luar dari endometrium terlepas dari uterus pada daerah perdarahan tersebut, sampai kira-kira 48 jam setelah terjadinya menstruasi, semua lapisan superfisial endometrium sudah berdeskuamasi. Massa jaringan deskuamasi dan darah di dalam kavum uteri, ditambah efek kontraksi dari prostaglandin atau zat-zat lain di dalam lapisan yang terdeskuamasi, seluruhnya bersama-sama akan merangsang kontraksi uterus yang menyebabkan dikeluarkannya isi uterus.

Selama menstruasi normal, kira-kira 40 mililiter darah dan tambahan 35 ml cairan serosa dikeluarkan. Cairan menstruasi  ini normalnya tidak membentuk bekuan, karena fibrinosin dilepaskan bersama dengan bahan nekrotik endometrium. Bila terjadi perdarahan yang berlebihan dari permukaan uterus, jumlah fibrinolisin mungkin tidak cukup untuk mencegah pembekuan. Adanya bekuan darah selama menstruasi sering merupakan bukti klinis adanya kelainan patologi dari uterus.

Dalam waktu 4 sampai 7 hari sesudah dimulainya menstruasi, pengeluaran darah akan berhenti, karena pada saat ini endometrium sudah mengalami epitelisasi kembali.

Sumber: Fisiologi Guyton Hall Edisi 11 tahun 2006, EGC

Sumber: Fisiologi Guyton Hall Edisi 11 tahun 2006, EGC

a

Posted in Uncategorized | Leave a comment

tingakat kesadaran

Tingkat Kesadaran

( Macam-macam Tingkat Kesadaran )

Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan, tingkat kesadaran dibedakan menjadi :

  1. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya..
  2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
  3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
  4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
  5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.
  6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).

Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala.

Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian).

Jadi sangat penting dalam mengukur status neurologikal dan medis pasien. Tingkat kesadaran ini bisa dijadikan salah satu bagian dari vital sign.

Penyebab Penurunan Kesadaran

Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia); kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok); penyakit metabolic seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis) ; pada keadaan hipo atau hipernatremia ; dehidrasi; asidosis, alkalosis; pengaruh obat-obatan, alkohol, keracunan: hipertermia, hipotermia; peningkatan tekanan intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak); infeksi (encephalitis); epilepsi.

Mengukur Tingkat Kesadaran

Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran.

Metoda lain adalah menggunakan sistem AVPU, dimana pasien diperiksa apakah sadar baik (alert), berespon dengan kata-kata (verbal), hanya berespon jika dirangsang nyeri (pain), atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri (unresponsive).

Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada respon (unresponsiveness).

a

a

Posted in Uncategorized | Leave a comment

obesitas

6.1.Obesitas

6.1.1 Definisi Obesitas

Obesitas merupakan keadaan patologis, yaitu dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh yang normal.

Untuk menentukan obesitas diperlukan kriteria yang berdasarkan pengukuran antropometri dan atau pemeriksaan laboratorik, pada umumnya digunakan:

  1. Pengukuran berat badan (BB) yang dibandingkan dengan standar dan disebut obesitas bila BB > 120% BB standar.
  2. Pengukuran berat badan dibandingkan tinggi badan (BB/TB). Dikatakan obesitas bila BB/TB > persentile ke 95 atau > 120%  atau Z-score ≥ + 2 SD.
  3. Pengukuran lemak subkutan dengan mengukur skinfold thickness (tebal lipatan kulit/TLK). Sebagai indikator obesitas bila TLK Triceps > persentil ke 85.
  4. Pengukuran lemak secara laboratorik, misalnya densitometri, hidrometri dsb. yang tidak digunakan pada anak karena sulit dan tidak praktis. DXA adalah metode yang paling akurat, tetapi tidak praktis untuk dilapangan.
  5. Indeks Massa Tubuh (IMT), > persentil ke 95 sebagai indikator obesitas.
  1. Klasifikasi

Menurut gejala klinisnya, obesitas dibagi menjadi :

1. Obesitas sederhana (Simple Obesity)

Terdapat gejala kegemukan saja tanpa disertai kelainan hormonal/mental/fisik lainnya, obesitas ini terjadi karena faktor nutrisi.

2. Bentuk khusus obesitas

  1. Kelainan endokrin/hormonal

Tersering adalah sindrom Cushing, pada anak yang sensitive terhadap pengobatan dengan hormone steroid.

  1. Kelainan somatodismorfik

Sindrom Prader-Willi, sindrom Summit dan Carpenter, sindrom Laurence-Moon-Biedl, dan sindrom Cohen.Obesitas pada kelainan ini hampir selalu disertai mental retardasi dan kelainan ortopedi.

  1. Kelainan hipotalamus

Kelainan pada hipotalamus yang mempengaruhi nafsu makan dan berakibat terjadinya obesitas, sebagai akibat dari kraniofaringioma, leukemia serebral, trauma kepala, dan lain-lain.

6.1.2 Perjalanan Perkembangan Obesitas

Menurut Dietz terdapat 3 periode kritis dalam masa tumbuh kembang anak dalam kaitannya dengan terjadinya obesitas, yaitu: periode pranatal, terutama trimester 3 kehamilan, periode adiposity rebound pada usia 6 – 7 tahun  dan periode adolescence.

Pada bayi dan anak yang obesitas, sekitar 26,5% akan tetap obesitas untuk 2 dekade berikutnya dan 80% remaja yang obesitas akan menjadi dewasa yang obesitas.Menurut Taitz, 50% remaja yang obesitas sudah mengalami obesitas sejak bayi.  Sedang penelitian di Jepang menunjukkan 1/3 dari anak obesitas tumbuh menjadi obesitas dimasa dewasa1 dan risiko obesitas ini diperkirakan sangat tinggi, dengan OR 2,0 – 6,7.

Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa obesitas pada usia 1-2 tahun dengan orang tua normal, sekitar 8% menjadi obesitas dewasa, sedang obesitas pada usia 10-14 tahun dengan salah satu orang tuanya obesitas, 79% akan menjadi obesitas dewasa.

6.1.3 Etiologi

A.  Faktor lingkungan

Hampir seluruh obesitas anak sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, baik tingkat aktivitas fisik yang rendah atau asupan kalori yang terlalu besar. Waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi berhubungan langsung dengan angka obesitas anak dan remaja, dan efek ini dapat terus berlanjut ke usia dewasa. Dalam dua studi, waktu menonton televisi pada usia 5 tahun ke atas memiliki korelasi dengan meningkatnya BMI pada usia 26-30 tahun. Satu studi lain menunjukkan bahwa efek televisi terhadap obesitas terutama disebabkan perubahan dalam asupan energi. Mengurangi waktu menonton televisi dan bermain komputer selama 2 tahun pada anak usia 4-7 tahun yang overweight terbukti efektif untuk mengurangi BMI dan asupan energi tanpa perubahan dalam aktivitas fisik. Video game yang memerlukan aktivitas fisik interaktif dari pemainnya, walaupun terbukti meningkatkan pemakaian energi selama permainan, tidak memiliki efek jangka panjang terhadap obesitas dan penggunaannya menurun tajam seiring waktu.

Penelitian juga menunjukkan hubungan antara waktu tidur yang kurang dengan obesitas atau resistensi terhadap insulin. Mekanisme hubungan ini diperkirakan berhubungan dengan perubahan kadar leptin dan ghrelin dalam serum, atau tersedianya waktu yang lebih banyak untuk mengkonsumsi makanan pada anak yang tidur lebih sedikit.

B.  Faktor genetik

Studi yang ada menunjukkan bahwa keturunan berperan dalam 30-50% variasi akumulasi jaringan lemak, namun polimorfisme genetik untuk hal ini belum ditemukan. Beberapa sindrom spesifik dan kelainan gen tunggal yang terkait dengan obesitas anak telah ditemukan. Semua ini adalah penyebab yang sangat jarang untuk obesitas anak, hanya mencakup kurang dari 1% obesitas anak yang dijumpai di pusat-pusat penelitian. Selain obesitas, anak dengan sindrom genetik ini umumnya memiliki temuan karakteristik dalam pemeriksaan fisik.

  1. Faktor endokrin

Faktor endokrin sebagai penyebab ditemukan hanya dalam kurang dari 1% obesitas anak dan remaja, beberapa di antaranya adalah hipotiroid, kelebihan kortisol (penggunaan kortikosteroid, Cushing syndrome), defisiensi hormon pertumbuhan, dan lesi hipotalamus (infeksi, malformasi vaskular, neoplasma, atau trauma). Anak dengan masalah endokrin umumnya berpostur pendek dan/atau mengalami hypogonadism.

6.1.4 Mekanisme Regulasi Keseimbangan  Energi dan Berat Badan

Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis, yaitu: pengendalian rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran energi dan regulasi sekresi hormon yang terlibat dalam pengaturan penyimpanan energi, melalui sinyal-sinyal efferent yang berpusat di hipotalamus setelah mendapatkan sinyal afferent dari perifer terutama dari jaringan adipose tetapi juga dari usus dan jaringan otot. Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan asupan makanan, menurunkan pengeluaran energi) dan katabolik (anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang.

Sinyal pendek (situasional) yang mempengaruhi porsi makan dan waktu makan serta berhubungan dengan faktor distensi lambung dan peptida gastrointestinal, yaitu kolesistokinin (CCK) yang mempunyai peranan paling penting dalam menurunkan porsi makan dibanding glukagon, bombesin dan somatostatin. Sinyal panjang yang diperankan oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan dan keseimbangan  energi. Didalam system ini leptin memegang peran utama sebagai pengendali berat badan. Sumber utama leptin adalah jaringan adiposa, yang disekresi langsung masuk ke peredaran darah dan kemudian menembus sawar darah otak menuju ke hipotalamus. Apabila asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan maka massa  jaringan adiposa meningkat, disertai dengan  peningkatan kadar leptin dalam peredaran darah. Leptin kemudian merangsang anorexigenic center di hipotalamus agar menurunkan produksi NPY, sehingga terjadi penurunan nafsu makan dan asupan makanan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan energi lebih besar dari asupan energi, maka  massa jaringan adiposa berkurang dan terjadi rangsangan pada orexigenic center di hipotalamus yang menyebabkan peningkatan nafsu makan dan asupan makanan. Pada sebagian besar orang obesitas, mekanisme ini tidak berjalan walaupun kadar leptin didalam darah tinggi dan disebut sebagai resistensi leptin.

Beberapa neurotransmiter, yaitu norepineprin, dopamin, asetilkolin dan serotonin berperan juga dalam regulasi keseimbangan energi, demikian juga dengan beberapa neuropeptide dan hormon perifer yang juga mempengaruhi asupan makanan dan berperan didalam pengendalian kebiasaan makan. Neuropeptide-neuropeptide ini meliputi neuropeptide Y (NPY), melanin-concentrating hormone, corticotropin-releasing hormone (CRH), bombesin dan somatostatin. NPY dan CRH terdapat di nukleus paraventrikuler (PVN) yang terletak di bagian dorsal dan rostral ventromedial hypothalamic (VMH), sehingga lesi pada daerah ini akan mempengaruhi  kebiasaan makan dan keseimbangan energi. NPY  merupakan neuropeptida perangsang nafsu makan dan diduga berperan didalam respon fisiologi terhadap starvasi  dan obesitas.

Nukleus VMH  merupakan satiety center / anorexigenic center . Stimulasi pada nukleus VMH akan menghambat asupan makanan dan kerusakan nukleus ini akan menyebabkan makan yang berlebihan (hiperfagia) dan obesitas. Sedang nukleus area lateral hipotalamus (LHA) merupakan feeding center / orexigenic center  dan memberikan pengaruh yang berlawanan.

Leptin dan insulin yang bekerja pada nukleus arcuatus (ARC), merangsang neuron proopimelanocortin / cocain and amphetamine-regulated transcript (POMC/ CART) dan menimbulkan efek katabolik (menghambat nafsu makan, meningkatkan pengeluaran energi) dan pada saat yang sama menghambat  neuron NPY/AGRP (agouti related peptide) dan menimbulkan efek anabolik (merangsang nafsu makan, menurunkan pengeluaran energi). Pelepasan neuropeptida-neuropeptida NPY/AGRP dan POMC/CART  oleh neuron-neuron tersebut kedalam nukleus PVN dan LHA,  yang selanjutnya akan memediasi efek insulin dan leptin dengan cara mengatur respon neuron-neuron dalam nukleus traktus solitarius  (NTS) di otak belakang terhadap sinyal rasa kenyang (oleh kolesistokinin dan distensi lambung) yang timbul setelah makan. Sinyal rasa kenyang ini menuju NTS terutama melalui nervus vagus. Jalur descending anabolik dan katabolik diduga mempengaruhi respon neuron di NTS yang mengatur penghentian makan. Jalur katabolik meningkatkan dan jalur anabolik menurunkan efek sinyal kenyang jalur pendek, sehingga menyebabkan  penyesuaian porsi makan yang mempunyai efek jangka panjang pada perubahan asupan makan dan berat badan.

6.1.5  Metabolic programming

Akhir-akhir ini telah ditemukan bahwa pengaruh lingkungan dan nutrisi selama masa kritikal dalam perkembangan dapat mempengaruhi predisposisi seseorang untuk menjadi obese atau mengalami penyakit metabolik. Penelitian juga membuktikan adanya hubungan antara berat lahir (sebagai refleksi nutrisi selama kehamilan) dengan diabetes, penyakit jantung, dan obesitas di usia dewasa. Studi lain juga menunjukkan hubungan konsisten antara laju pertambahan berat badan selama masa kanak-kanak dengan obesitas di usia remaja atau dewasa, laju pertambahan yang diinginkan adalah yang moderat. Beberapa faktor endokrin maternal juga mempengaruhi obesitas anak. Dalam satu penelitian, usia menarche yang lebih muda adalah prediktor status obesitas anak. Laju pertumbuhan anak dari ibu dengan menarche di usia muda juga lebih cepat dalam 2 tahun pertama kehidupan.

6.1.5  Epidemiologi

Penelitian perseorangan pada telah menggambarkan prevalensi obesitas masa anak 7-43% (Canada), 7,3% (United Kingdom) dan 27,1% pada umur 6-11 dan 21,9% pada umur 12-17 tahun (Amerika Serikat). Insidens obesitas masa anak di amerika serikat diperkirakan 10-15%; Di indonesia kejadian obesitas hanya terdapat pada anak dari beberapa keluarga yang tergolong mampu. Obesitas dapat terjadi pada semua golongan umur, tapi tersering di jumpai pada bayi, anak berumur 5-6 tahun dan golongan remaja, terutama anak perempuan. Selanjutnya obesitas lebih sering ditemukan pada anggota keluargadengan salah seeorang (terutama ibu) atau kedua orang tuanya juga menderita obesitas.

6.1.7        Diagnosis

Menentukan diagnosis obesitas tidak selalu mudah, karena tidak ada garis pembatas yang jelas antara gizi baik dan gizi lebih. Diagnosis didasarkan atas gejala klinis dan hasil pemeriksaan antropometrik, yang mencakup pengukuran BB,TB, lingkaran lengan atas, serta tebal lipatan kulit dan subkutan lengan atas kanan bagian belakang tengah, sebelah atas otot triseps. Diagnosis ditegakkan bila ditemkan gejala klinis obesitas, disertai dengan adanya data antropometrik untuk perbandingan BB dan TB, lingkaran lengan atas dan tebalnya lapisan kulit, paling sedikit 10% di atas nilai normal.

(sumber: markum, A.H, et all.2002. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak jilid 1. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia)

a

Posted in Uncategorized | Leave a comment

tatalaksana obesitas pada anak

Tatalaksana Obesitas Pada Anak Mengingat penyebab obesitas bersifat multifaktor, maka penatalaksanaan obesitas seharusnya dilaksanakan secara multidisiplin dengan mengikut sertakan keluarga dalam proses terapi obesitas. Prinsip dari tatalaksana obesitas adalah mengurangi asupan energi serta meningkatkan keluaran energi, dengan cara pengaturan diet, peningkatan aktifitas fisik, dan mengubah / modifikasi pola hidup. A. Menetapkan target penurunan berat badan Untuk penurunan berat badan ditetapkan berdasarkan: umur anak, yaitu usia 2 – 7 tahun dan diatas 7 tahun, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit penyerta/komplikasi. Pada anak obesitas tanpa komplikasi dengan usia dibawah 7 tahun, dianjurkan cukup dengan mempertahankan berat badan, sedang pada obesitas dengan komplikasi pada anak usia dibawah 7 tahun dan obesitas pada usia diatas 7 tahun dianjurkan untuk menurunkan berat badan. Target penurunan berat badan sebesar 2,5 – 5 kg atau dengan kecepatan 0,5 – 2 kg per bulan.5 B. Pengaturan diet Prinsip pengaturan diet pada anak obesitas adalah diet seimbang sesuai dengan RDA, hal ini karena anak masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan.5 Intervensi diet harus disesuaikan dengan usia anak, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit penyerta. Pada obesitas sedang dan tanpa penyakit penyerta, diberikan diet seimbang rendah kalori dengan pengurangan asupan kalori sebesar 30%. Sedang pada obesitas berat (IMT > 97 persentile) dan yang disertai penyakit penyerta, diberikan diet dengan kalori sangat rendah (very low calorie diet ).12 Dalam pengaturan diet ini perlu diperhatikan tentang 5: 1. Menurunkan berat badan dengan tetap mempertahankan pertumbuhan normal. 2. Diet seimbang dengan komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 20-30% dengan lemak jenuh < 10% dan protein 15-20% energi total serta kolesterol < 300 mg per hari. 3. Diet tinggi serat, dianjurkan pada anak usia > 2 tahun dengan penghitungan dosis menggunakan rumus: (umur dalam tahun + 5) gram per hari. C. Pengaturan aktifitas fisik Peningkatan aktifitas fisik mempunyai pengaruh terhadap laju metabolisme. Latihan fisik yang diberikan disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik, kemampuan fisik dan umurnya. Aktifitas fisik untuk anak usia 6-12 tahun lebih tepat yang menggunakan ketrampilan otot, seperti bersepeda, berenang, menari dan senam. Dianjurkan untuk melakukan aktifitas fisik selama 20-30 menit per hari.5 Tabel Jenis kegiatan dan jumlah kalori yang dibutuhkan Jenis kegiatan Kalori yang digunakan/jam Jalan kaki 3 km/jam Jalan kaki 6 km/jam Joging 8 km/jam Lari 12 km/jam Tenis tunggal Tenis ganda Golf Berenang Bersepeda 150 300 480 600 360 240 180 350 660 D. Mengubah pola hidup/perilaku Untuk perubahan perilaku ini diperlukan peran serta orang tua sebagai komponen intervensi, dengan cara: 1. Pengawasan sendiri terhadap: berat badan, asupan makanan dan aktifitas fisik serta mencatat perkembangannya. 2. Mengontrol rangsangan untuk makan. Orang tua diharapkan dapat menyingkirkan rangsangan disekitar anak yang dapat memicu keinginan untuk makan. 3. Mengubah perilaku makan, dengan mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi dan mengurangi makanan camilan. 4. Memberikan penghargaan dan hukuman. 5. Pengendalian diri, dengan menghindari makanan berkalori tinggi yang pada umumnya lezat dan memilih makanan berkalori rendah.5 E. Peran serta orang tua, anggota keluarga, teman dan guru. Orang tua menyediakan diet yang seimbang, rendah kalori dan sesuai petunjuk ahli gizi. Anggota keluarga, guru dan teman ikut berpartisipasi dalam program diet, mengubah perilaku makan dan aktifitas yang mendukung program diet.12 F. Terapi intensif 5,12 Terapi intensif diterapkan pada anak dengan obesitas berat dan yang disertai komplikasi yang tidak memberikan respon pada terapi konvensional, terdiri dari diet berkalori sangat rendah (very low calorie diet), farmakoterapi dan terapi bedah. 1. Indikasi terapi diet dengan kalori sangat rendah bila berat badan > 140% BB Ideal atau IMT > 97 persentile, dengan asupan kalori hanya 600-800 kkal per hari dan protein hewani 1,5 – 2,5 gram/kg BB Ideal, dengan suplementasi vitamin dan mineral serta minum > 1,5 L per hari. Terapi ini hanya diberikan selama 12 hari dengan pengawasan dokter. 2. Farmakoterapi dikelompokkan menjadi 3, yaitu: mempengaruhi asupan energi dengan menekan nafsu makan, contohnya sibutramin; mempengaruhi penyimpanan energi dengan menghambat absorbsi zat-zat gizi contohnya orlistat, leptin, octreotide dan metformin; meningkatkan penggunaan energi. Farmakoterapi belum direkomendasikan untuk terapi obesitas pada anak, karena efek jangka panjang yang masih belum jelas. 3. Terapi bedah di indikasikan bila berat badan > 200% BB Ideal. Prinsip terapi ini adalah untuk mengurangi asupan makanan atau memperlambat pengosongan lambung dengan cara gastric banding, dan mengurangi absorbsi makanan dengan cara membuat gastric bypass dari lambung ke bagian akhir usus halus. Sampai saat ini belum banyak penelitian tentang manfaat dan bahaya terapi ini pada a

Posted in Uncategorized | Leave a comment