Pertumbuhan dan Perkembangan organ reproduksi

  1. Pertumbuhan dan Perkembangan organ reproduksi

Pertumbuhan dan perkembangan organ gonad ini berasal dari lapisan mesoderm intermediate pada minggu ke-5. Pada pria perkembangan system reproduksinya berasal dari duktus mesonephros (Wollfian), sedangkan pada wanita berasal dari duktus paramesonepros (Mullerian) yang berkembang di sebelah lateral duktus mesoneprhos. Perkembangan kedua saluran ini akan bermuara pada sinus urogenitalia.

Penentuan jenis kelamin pada manusia di atur oleh kromosom Y yang menentukan jenis kelamin pria. Pada kromosom ini terdapat gen SRY  (sex determining of Y chromosome). Apabila gen SRY ini di ekspresikan pada saat perkembangan, maka protein yang dihasilkan akan memicu sel sertoli untuk berdiferensiasi menjadi jaringan gonad pada minggu ke-7. Perkembangan sel sertoli ini akan mensekresikan hormone Mullerian-inhibiting hormone (MIH) yang akan menyebabkan duktus paramesonefros mengalami apoptosis. Maka dari itu, duktus ini tidak ikut berkontribusi pada system reproduksi laki-laki. Stimulasi dari hCG (Human Chorionic gonadotropin) akan menyebabkan sel-sel Leydig pada jaringan gonad mensekresikan testosterone pada minggu ke-8. Testosterone akan menstimulus perkembangan duktus mesonephros menjadi epididimis, vas deferen, duktus ejakulatorius, vesikel seminularis. Testis akan berhubungan dengan duktus mesonephros melalui serangkaian tubulus yang berasal dari tubulus seminiferus. Kelenjar prostat dan bulbouretral merupakan bagian endodermal dari uretra.

Pada wanita, terdiri dari dua kromosom X dan tanpa kromosom Y. oleh karena itu, tidak terdapat gen SRY, sehingga duktus paramesonephros bisa berkembang dengan baik. Bagian distal dari duktus paramesonephros ini akan berfusi membentuk uterus dan vagina, sedangkan bagian yang tidak berfusi akan berkembang menjadi tuba fallopi. Duktus mesonephros tidak berkembang diakibatkan tidak adanya hormone testosterone.

Perkembangan embrio genitalia eksterna pada pria dan wanita (penis, skrotum, clitoris, labia, vagina) juga akan berdiferensiasi sampai umur kira-kira 8 minggu. Sebelum berdiferensiasi, embrio pada pria dan wanita terdapat genital tubercle, yang terdiri dari uretral groove, sepasang uretral fold dan labioscrotal swelling.

Pada embrio pria, beberapa testosterone akan dikonversikan menjadi dihydrotestosteron yang menstimulasi perkembangan uretra, prostat, organ genital eksterna (skrotum dan penis).

genital tubercle akan memanjang dan berkembang menjadi penis. Fusi antara uretral fold akan membentuk spongy (penil) uretra. Labiosrotal swelling akan berkembang menjadi skrotum.

Karena pada wanita tidak terdapat dehidrosteron, maka genital tubercle ini akan berkembang menjadi clitoris. Uretral fold tetap terbuka membentuk labium minora, dan labioscrotalnya berkembang menjadi labium mayora.

  1. Pertumbuhan dan Perkembangan organ reproduksi

Pertumbuhan dan perkembangan organ gonad ini berasal dari lapisan mesoderm intermediate pada minggu ke-5. Pada pria perkembangan system reproduksinya berasal dari duktus mesonephros (Wollfian), sedangkan pada wanita berasal dari duktus paramesonepros (Mullerian) yang berkembang di sebelah lateral duktus mesoneprhos. Perkembangan kedua saluran ini akan bermuara pada sinus urogenitalia.

Penentuan jenis kelamin pada manusia di atur oleh kromosom Y yang menentukan jenis kelamin pria. Pada kromosom ini terdapat gen SRY  (sex determining of Y chromosome). Apabila gen SRY ini di ekspresikan pada saat perkembangan, maka protein yang dihasilkan akan memicu sel sertoli untuk berdiferensiasi menjadi jaringan gonad pada minggu ke-7. Perkembangan sel sertoli ini akan mensekresikan hormone Mullerian-inhibiting hormone (MIH) yang akan menyebabkan duktus paramesonefros mengalami apoptosis. Maka dari itu, duktus ini tidak ikut berkontribusi pada system reproduksi laki-laki. Stimulasi dari hCG (Human Chorionic gonadotropin) akan menyebabkan sel-sel Leydig pada jaringan gonad mensekresikan testosterone pada minggu ke-8. Testosterone akan menstimulus perkembangan duktus mesonephros menjadi epididimis, vas deferen, duktus ejakulatorius, vesikel seminularis. Testis akan berhubungan dengan duktus mesonephros melalui serangkaian tubulus yang berasal dari tubulus seminiferus. Kelenjar prostat dan bulbouretral merupakan bagian endodermal dari uretra.

Pada wanita, terdiri dari dua kromosom X dan tanpa kromosom Y. oleh karena itu, tidak terdapat gen SRY, sehingga duktus paramesonephros bisa berkembang dengan baik. Bagian distal dari duktus paramesonephros ini akan berfusi membentuk uterus dan vagina, sedangkan bagian yang tidak berfusi akan berkembang menjadi tuba fallopi. Duktus mesonephros tidak berkembang diakibatkan tidak adanya hormone testosterone.

Perkembangan embrio genitalia eksterna pada pria dan wanita (penis, skrotum, clitoris, labia, vagina) juga akan berdiferensiasi sampai umur kira-kira 8 minggu. Sebelum berdiferensiasi, embrio pada pria dan wanita terdapat genital tubercle, yang terdiri dari uretral groove, sepasang uretral fold dan labioscrotal swelling.

Pada embrio pria, beberapa testosterone akan dikonversikan menjadi dihydrotestosteron yang menstimulasi perkembangan uretra, prostat, organ genital eksterna (skrotum dan penis).

genital tubercle akan memanjang dan berkembang menjadi penis. Fusi antara uretral fold akan membentuk spongy (penil) uretra. Labiosrotal swelling akan berkembang menjadi skrotum.

Karena pada wanita tidak terdapat dehidrosteron, maka genital tubercle ini akan berkembang menjadi clitoris. Uretral fold tetap terbuka membentuk labium minora, dan labioscrotalnya berkembang menjadi labium mayora.

(Tortora, J Gerrard et all. 2009. Principles of Anatomy and Physiology. Asia: Willey)

Pada pertumbuhan remaja wanita, ukuran garis tengah transversal dari pelvis akan bertambah, kemudian payudara akan membesar, terjadi pigmentasi putting susu, perubahan sekresi vagina. Segera sesudah itu, mulai tumbuh rambut di daerah pubis dan akhirnya di bagian aksila.ovarium akan bertambah besar dan berat dengan lambat mulai dari lahir hingga menarche, kemudian tumbuh lebih cepat antara menarche dan pubertas. Pada saat pubertas, ovarium berbentuk lonjong dan mempunyai permukaan yang rata. Bila perkembangan folikel ovarium sudah cukup hingga menghasilkan estrogen, maka pertumbuahan uterus mulai cepat, terutama bagian korpusnya. Vagina bertambah lebar dan dalam, dindingnya mulai mempunyai lipatan transversal. Tuba fallopi manjadi matang serta menjadi panjang dan lebar. Pada dinding epithelium tumbuh sel cilia dan mulai ada peristaltic yang lambat.

Pada anak pria, pertama-tama testis dan penis akan bertambah besar, kemudian terjadi perbesaran mammae yang sementara pada awal pubertas. Selanjutnya timbul rabut di daerah pubis, ketiak dan muka, terjadi perubahan suara. Timbul spermatozoa dalam sekresi seminalis.

(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2007. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: InfoMedika)

  1. Tumbuh Kembang Remaja

Pertumbuhan pada masa remaja ditinjau dari tinggi dan berat badan merupakan akselerasi yang tinggi sehingga hapir mencapai 2 kali lipat, mendahului tercapainya kematangan seksual (pubertas) dan kemudian menjadi semakin lambat sampai berhentinya pertumbuhan tulang.

Pubertas adalah suatu keadaan saat tercapainya kematangan seksuil atau saat terjadinya kemungkinan berkembang biak. Terjadinya pubertas tiap orang itu sangat bervariasi. Pubertas merupakan tahap perubahan dari anak-anak menjadi dewasa yang biasanya dimulai dari umur 10 tahun sampai 20 tahun. Perubahan penampakan yang terjadi pada remaja yang mengalami pubertas adalah pertumbuhan tubuh, kematangan psiological, dan kemampuan reproduksi. Biasanya pubertas yeng terjadi pada wanita berkisar pada umur 8-12 tahun, sedangkan pada pria terjadi sekitar umur 10-14 tahun.

  1. Perubahan physiological

Saat pubertas, hormone-hormon dalam tubuh akan meningkat dan memicu terjadinya beberapa perubahan fisik. Pertumbuhan terjadi sangat cepat dan timbul cirri-ciri seks sekunder. Terdapat perbedaan cirri fisik antara pria dan wanita

  1. Perkembangan payudara

Ukuran payudara dan proses terbentuknya payudara pada setiap wanita itu berbeda-beda, biasanya terjadi pada umur 8-12 tahun. Biasanya pada wanita, pertumbuhan payudara terjadi lebih dulu pada salah satu sisinya dan diikuti payudara sisi yang lain.

  1. Menstruasi

Pada umunya, wanita mengalami menarche pada umur 10-15 tahun. Selama masa pubertas ini, system reproduksi dipengaruhi oleh hormone-hormon, telur yang telah matang akan dilepaskan secara periodic dan dalam waktu yang sama hormone akan menstimulus uterus untuk membentuk lebih banyak saluran darah dan membuat uterus lebih tebal. Apabila saat telur dilepaskan dibuahi oleh sel sperma, maka sel telur ini akan berimplantasi pada dinding uterus dan akan berkembang menjadi bayi.

Namun, bila sel telur tersebut tidak dibuahi oleh sel sperma, maka uterus akan berhenti menebal dan akan melepaskan jaringan-jaringannya. Darah, sel residu, dan mucus akan mengalir keluar lewat vagina selama 3 sampai 7 hari.

Pada awl menstruasi, wanita akan melewati periode menstruasi yang tidak teratur selama 2 sampai 3 bulan yang dipengaruhi oleh system reproduksi yang belum matur.

  1. Mimpi basah

Saat pria mengalami masa pubertas, maka testis akan menghasilkan sperma dalam jumlah yang banyak. Ketika tidur, inhibisi dari system saraf pusat akan berelaksasi dan sperma akan dikeluarkan ketika penis dipicu oleh perpindahan tubuh atau oleh tekanan akibat pakaian dalam yang ketat atau ketika pria bermimpi sex. Semua kejadian ini dinamakan mimpi basah. Hal ini normal bagi pria dan tidak membahayakan tubuh.timbulnya mimpi basah pada setiap orang berbeda-beda.

Gangguan Pubertas

Pubertas pada setiap orang berbeda-beda. Apabila seseorang yang mengalami pubertas lebih cepat dari biasanya, maka pubertas tersebut dinamakan pubertas prekok. Dan sebaliknya apabila pubertas yang dialami lebih lama maka dinamakan pubertas terlambat.

  1. Pengaruh stress terhadap pubertas

Stress merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dan perilaku dari manusia

yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan

eksternal. Sedangkan stressor adalah kejadian, situasi, seseorang atau suatu

  • obyek yang dilihat sebagai unsur yang menimbulkan stress dan menyebabkan reaksi stress sebagai hasilnya.

Gangguan pada pola menstruasi ini melibatkan mekanisme regulasi

intergratif yang mempengaruhi proses biokimia dan seluler seluruh tubuh

termasuk otak dan psikologis. Pengaruh otak dalam reaksi hormonal terjadi

melalui jalur hipotalamus-hipofisis-ovarium yang meliputi multiefek dan

mekanisme kontrol umpan balik. Pada  keadaan stress terjadi aktivasi pada

amygdala pada sistem limbik. Sistem ini akan menstimulasi pelepasan hormon dari hipotalamus yaitu corticotropic releasing hormone (CRH).  Hormon ini secara langsung akan menghambat sekresi GnRH hipotalamus dari tempat produksinya di nukleus arkuata.  Proses ini kemungkinan terjadi melalui penambahan sekresi opioid endogen.  Peningkatan CRH akan menstimulasi pelepasan endorfin dan adrenocorticotropic hormone (ACTH) ke dalam darah.  Endorfin sendiri diketahui merupakan opiat endogen yang peranannya terbukti dapat mengurangi rasa nyeri.  Sedangkan ACTH dirangsang oleh CRH secara bergelombang dengan ritme diurnal.  Peningkatan kadar ACTH akan menyebabkan peningkatan pada kadar kortisol darah.  Pada wanita dengan gejala amenore hipotalamik menunjukkan keadaan hiperkortisolisme yang disebabkan adanya peningkatan CRH dan ACTH.  Hormon-hormon tersebut secara langsung dan tidak langsung menyebabkan penurunan kadar GnRH, dimana melalui jalan ini maka stress menyebabkan gangguan menstruasi.

Gejala klinis yang tampak terutama adalah amenore, selain itu dapat juga

berupa anovulasi, atau fase luteal yang inadekuat.  Gejala klinis yang timbul ini

tergantung pada derajat penekanan pada GnRH.  Gejala-gejala ini umumnya

bersifat sementara  dan biasanya akan kembali normal apabila stress yang ada

        T3

bisa diatasi.

  1. Pertumbuhan dan Perkembangan organ reproduksi

Pertumbuhan dan perkembangan organ gonad ini berasal dari lapisan mesoderm intermediate pada minggu ke-5. Pada pria perkembangan system reproduksinya berasal dari duktus mesonephros (Wollfian), sedangkan pada wanita berasal dari duktus paramesonepros (Mullerian) yang berkembang di sebelah lateral duktus mesoneprhos. Perkembangan kedua saluran ini akan bermuara pada sinus urogenitalia.

Penentuan jenis kelamin pada manusia di atur oleh kromosom Y yang menentukan jenis kelamin pria. Pada kromosom ini terdapat gen SRY  (sex determining of Y chromosome). Apabila gen SRY ini di ekspresikan pada saat perkembangan, maka protein yang dihasilkan akan memicu sel sertoli untuk berdiferensiasi menjadi jaringan gonad pada minggu ke-7. Perkembangan sel sertoli ini akan mensekresikan hormone Mullerian-inhibiting hormone (MIH) yang akan menyebabkan duktus paramesonefros mengalami apoptosis. Maka dari itu, duktus ini tidak ikut berkontribusi pada system reproduksi laki-laki. Stimulasi dari hCG (Human Chorionic gonadotropin) akan menyebabkan sel-sel Leydig pada jaringan gonad mensekresikan testosterone pada minggu ke-8. Testosterone akan menstimulus perkembangan duktus mesonephros menjadi epididimis, vas deferen, duktus ejakulatorius, vesikel seminularis. Testis akan berhubungan dengan duktus mesonephros melalui serangkaian tubulus yang berasal dari tubulus seminiferus. Kelenjar prostat dan bulbouretral merupakan bagian endodermal dari uretra.

Pada wanita, terdiri dari dua kromosom X dan tanpa kromosom Y. oleh karena itu, tidak terdapat gen SRY, sehingga duktus paramesonephros bisa berkembang dengan baik. Bagian distal dari duktus paramesonephros ini akan berfusi membentuk uterus dan vagina, sedangkan bagian yang tidak berfusi akan berkembang menjadi tuba fallopi. Duktus mesonephros tidak berkembang diakibatkan tidak adanya hormone testosterone.

Perkembangan embrio genitalia eksterna pada pria dan wanita (penis, skrotum, clitoris, labia, vagina) juga akan berdiferensiasi sampai umur kira-kira 8 minggu. Sebelum berdiferensiasi, embrio pada pria dan wanita terdapat genital tubercle, yang terdiri dari uretral groove, sepasang uretral fold dan labioscrotal swelling.

Pada embrio pria, beberapa testosterone akan dikonversikan menjadi dihydrotestosteron yang menstimulasi perkembangan uretra, prostat, organ genital eksterna (skrotum dan penis).

genital tubercle akan memanjang dan berkembang menjadi penis. Fusi antara uretral fold akan membentuk spongy (penil) uretra. Labiosrotal swelling akan berkembang menjadi skrotum.

Karena pada wanita tidak terdapat dehidrosteron, maka genital tubercle ini akan berkembang menjadi clitoris. Uretral fold tetap terbuka membentuk labium minora, dan labioscrotalnya berkembang menjadi labium mayora.

(Tortora, J Gerrard et all. 2009. Principles of Anatomy and Physiology. Asia: Willey)

Pada pertumbuhan remaja wanita, ukuran garis tengah transversal dari pelvis akan bertambah, kemudian payudara akan membesar, terjadi pigmentasi putting susu, perubahan sekresi vagina. Segera sesudah itu, mulai tumbuh rambut di daerah pubis dan akhirnya di bagian aksila.ovarium akan bertambah besar dan berat dengan lambat mulai dari lahir hingga menarche, kemudian tumbuh lebih cepat antara menarche dan pubertas. Pada saat pubertas, ovarium berbentuk lonjong dan mempunyai permukaan yang rata. Bila perkembangan folikel ovarium sudah cukup hingga menghasilkan estrogen, maka pertumbuahan uterus mulai cepat, terutama bagian korpusnya. Vagina bertambah lebar dan dalam, dindingnya mulai mempunyai lipatan transversal. Tuba fallopi manjadi matang serta menjadi panjang dan lebar. Pada dinding epithelium tumbuh sel cilia dan mulai ada peristaltic yang lambat.

Pada anak pria, pertama-tama testis dan penis akan bertambah besar, kemudian terjadi perbesaran mammae yang sementara pada awal pubertas. Selanjutnya timbul rabut di daerah pubis, ketiak dan muka, terjadi perubahan suara. Timbul spermatozoa dalam sekresi seminalis.

(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2007. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: InfoMedika)

  1. Tumbuh Kembang Remaja

Pertumbuhan pada masa remaja ditinjau dari tinggi dan berat badan merupakan akselerasi yang tinggi sehingga hapir mencapai 2 kali lipat, mendahului tercapainya kematangan seksual (pubertas) dan kemudian menjadi semakin lambat sampai berhentinya pertumbuhan tulang.

Pubertas adalah suatu keadaan saat tercapainya kematangan seksuil atau saat terjadinya kemungkinan berkembang biak. Terjadinya pubertas tiap orang itu sangat bervariasi. Pubertas merupakan tahap perubahan dari anak-anak menjadi dewasa yang biasanya dimulai dari umur 10 tahun sampai 20 tahun. Perubahan penampakan yang terjadi pada remaja yang mengalami pubertas adalah pertumbuhan tubuh, kematangan psiological, dan kemampuan reproduksi. Biasanya pubertas yeng terjadi pada wanita berkisar pada umur 8-12 tahun, sedangkan pada pria terjadi sekitar umur 10-14 tahun.

  1. Perubahan physiological

Saat pubertas, hormone-hormon dalam tubuh akan meningkat dan memicu terjadinya beberapa perubahan fisik. Pertumbuhan terjadi sangat cepat dan timbul cirri-ciri seks sekunder. Terdapat perbedaan cirri fisik antara pria dan wanita

  1. Perkembangan payudara

Ukuran payudara dan proses terbentuknya payudara pada setiap wanita itu berbeda-beda, biasanya terjadi pada umur 8-12 tahun. Biasanya pada wanita, pertumbuhan payudara terjadi lebih dulu pada salah satu sisinya dan diikuti payudara sisi yang lain.

  1. Menstruasi

Pada umunya, wanita mengalami menarche pada umur 10-15 tahun. Selama masa pubertas ini, system reproduksi dipengaruhi oleh hormone-hormon, telur yang telah matang akan dilepaskan secara periodic dan dalam waktu yang sama hormone akan menstimulus uterus untuk membentuk lebih banyak saluran darah dan membuat uterus lebih tebal. Apabila saat telur dilepaskan dibuahi oleh sel sperma, maka sel telur ini akan berimplantasi pada dinding uterus dan akan berkembang menjadi bayi.

Namun, bila sel telur tersebut tidak dibuahi oleh sel sperma, maka uterus akan berhenti menebal dan akan melepaskan jaringan-jaringannya. Darah, sel residu, dan mucus akan mengalir keluar lewat vagina selama 3 sampai 7 hari.

Pada awl menstruasi, wanita akan melewati periode menstruasi yang tidak teratur selama 2 sampai 3 bulan yang dipengaruhi oleh system reproduksi yang belum matur.

  1. Mimpi basah

Saat pria mengalami masa pubertas, maka testis akan menghasilkan sperma dalam jumlah yang banyak. Ketika tidur, inhibisi dari system saraf pusat akan berelaksasi dan sperma akan dikeluarkan ketika penis dipicu oleh perpindahan tubuh atau oleh tekanan akibat pakaian dalam yang ketat atau ketika pria bermimpi sex. Semua kejadian ini dinamakan mimpi basah. Hal ini normal bagi pria dan tidak membahayakan tubuh.timbulnya mimpi basah pada setiap orang berbeda-beda.

Gangguan Pubertas

Pubertas pada setiap orang berbeda-beda. Apabila seseorang yang mengalami pubertas lebih cepat dari biasanya, maka pubertas tersebut dinamakan pubertas prekok. Dan sebaliknya apabila pubertas yang dialami lebih lama maka dinamakan pubertas terlambat.

  1. Pengaruh stress terhadap pubertas

Stress merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dan perilaku dari manusia

yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan

eksternal. Sedangkan stressor adalah kejadian, situasi, seseorang atau suatu

  • obyek yang dilihat sebagai unsur yang menimbulkan stress dan menyebabkan reaksi stress sebagai hasilnya.

Gangguan pada pola menstruasi ini melibatkan mekanisme regulasi

intergratif yang mempengaruhi proses biokimia dan seluler seluruh tubuh

termasuk otak dan psikologis. Pengaruh otak dalam reaksi hormonal terjadi

melalui jalur hipotalamus-hipofisis-ovarium yang meliputi multiefek dan

mekanisme kontrol umpan balik. Pada  keadaan stress terjadi aktivasi pada

amygdala pada sistem limbik. Sistem ini akan menstimulasi pelepasan hormon dari hipotalamus yaitu corticotropic releasing hormone (CRH).  Hormon ini secara langsung akan menghambat sekresi GnRH hipotalamus dari tempat produksinya di nukleus arkuata.  Proses ini kemungkinan terjadi melalui penambahan sekresi opioid endogen.  Peningkatan CRH akan menstimulasi pelepasan endorfin dan adrenocorticotropic hormone (ACTH) ke dalam darah.  Endorfin sendiri diketahui merupakan opiat endogen yang peranannya terbukti dapat mengurangi rasa nyeri.  Sedangkan ACTH dirangsang oleh CRH secara bergelombang dengan ritme diurnal.  Peningkatan kadar ACTH akan menyebabkan peningkatan pada kadar kortisol darah.  Pada wanita dengan gejala amenore hipotalamik menunjukkan keadaan hiperkortisolisme yang disebabkan adanya peningkatan CRH dan ACTH.  Hormon-hormon tersebut secara langsung dan tidak langsung menyebabkan penurunan kadar GnRH, dimana melalui jalan ini maka stress menyebabkan gangguan menstruasi.

Gejala klinis yang tampak terutama adalah amenore, selain itu dapat juga

berupa anovulasi, atau fase luteal yang inadekuat.  Gejala klinis yang timbul ini

tergantung pada derajat penekanan pada GnRH.  Gejala-gejala ini umumnya

bersifat sementara  dan biasanya akan kembali normal apabila stress yang ada

        T3

bisa diatasi.

(Tortora, J Gerrard et all. 2009. Principles of Anatomy and Physiology. Asia: Willey)

Pada pertumbuhan remaja wanita, ukuran garis tengah transversal dari pelvis akan bertambah, kemudian payudara akan membesar, terjadi pigmentasi putting susu, perubahan sekresi vagina. Segera sesudah itu, mulai tumbuh rambut di daerah pubis dan akhirnya di bagian aksila.ovarium akan bertambah besar dan berat dengan lambat mulai dari lahir hingga menarche, kemudian tumbuh lebih cepat antara menarche dan pubertas. Pada saat pubertas, ovarium berbentuk lonjong dan mempunyai permukaan yang rata. Bila perkembangan folikel ovarium sudah cukup hingga menghasilkan estrogen, maka pertumbuahan uterus mulai cepat, terutama bagian korpusnya. Vagina bertambah lebar dan dalam, dindingnya mulai mempunyai lipatan transversal. Tuba fallopi manjadi matang serta menjadi panjang dan lebar. Pada dinding epithelium tumbuh sel cilia dan mulai ada peristaltic yang lambat.

Pada anak pria, pertama-tama testis dan penis akan bertambah besar, kemudian terjadi perbesaran mammae yang sementara pada awal pubertas. Selanjutnya timbul rabut di daerah pubis, ketiak dan muka, terjadi perubahan suara. Timbul spermatozoa dalam sekresi seminalis.

(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2007. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: InfoMedika)

  1. Tumbuh Kembang Remaja

Pertumbuhan pada masa remaja ditinjau dari tinggi dan berat badan merupakan akselerasi yang tinggi sehingga hapir mencapai 2 kali lipat, mendahului tercapainya kematangan seksual (pubertas) dan kemudian menjadi semakin lambat sampai berhentinya pertumbuhan tulang.

Pubertas adalah suatu keadaan saat tercapainya kematangan seksuil atau saat terjadinya kemungkinan berkembang biak. Terjadinya pubertas tiap orang itu sangat bervariasi. Pubertas merupakan tahap perubahan dari anak-anak menjadi dewasa yang biasanya dimulai dari umur 10 tahun sampai 20 tahun. Perubahan penampakan yang terjadi pada remaja yang mengalami pubertas adalah pertumbuhan tubuh, kematangan psiological, dan kemampuan reproduksi. Biasanya pubertas yeng terjadi pada wanita berkisar pada umur 8-12 tahun, sedangkan pada pria terjadi sekitar umur 10-14 tahun.

  1. Perubahan physiological

Saat pubertas, hormone-hormon dalam tubuh akan meningkat dan memicu terjadinya beberapa perubahan fisik. Pertumbuhan terjadi sangat cepat dan timbul cirri-ciri seks sekunder. Terdapat perbedaan cirri fisik antara pria dan wanita

  1. Perkembangan payudara

Ukuran payudara dan proses terbentuknya payudara pada setiap wanita itu berbeda-beda, biasanya terjadi pada umur 8-12 tahun. Biasanya pada wanita, pertumbuhan payudara terjadi lebih dulu pada salah satu sisinya dan diikuti payudara sisi yang lain.

  1. Menstruasi

Pada umunya, wanita mengalami menarche pada umur 10-15 tahun. Selama masa pubertas ini, system reproduksi dipengaruhi oleh hormone-hormon, telur yang telah matang akan dilepaskan secara periodic dan dalam waktu yang sama hormone akan menstimulus uterus untuk membentuk lebih banyak saluran darah dan membuat uterus lebih tebal. Apabila saat telur dilepaskan dibuahi oleh sel sperma, maka sel telur ini akan berimplantasi pada dinding uterus dan akan berkembang menjadi bayi.

Namun, bila sel telur tersebut tidak dibuahi oleh sel sperma, maka uterus akan berhenti menebal dan akan melepaskan jaringan-jaringannya. Darah, sel residu, dan mucus akan mengalir keluar lewat vagina selama 3 sampai 7 hari.

Pada awl menstruasi, wanita akan melewati periode menstruasi yang tidak teratur selama 2 sampai 3 bulan yang dipengaruhi oleh system reproduksi yang belum matur.

  1. Mimpi basah

Saat pria mengalami masa pubertas, maka testis akan menghasilkan sperma dalam jumlah yang banyak. Ketika tidur, inhibisi dari system saraf pusat akan berelaksasi dan sperma akan dikeluarkan ketika penis dipicu oleh perpindahan tubuh atau oleh tekanan akibat pakaian dalam yang ketat atau ketika pria bermimpi sex. Semua kejadian ini dinamakan mimpi basah. Hal ini normal bagi pria dan tidak membahayakan tubuh.timbulnya mimpi basah pada setiap orang berbeda-beda.

Gangguan Pubertas

Pubertas pada setiap orang berbeda-beda. Apabila seseorang yang mengalami pubertas lebih cepat dari biasanya, maka pubertas tersebut dinamakan pubertas prekok. Dan sebaliknya apabila pubertas yang dialami lebih lama maka dinamakan pubertas terlambat.

  1. Pengaruh stress terhadap pubertas

Stress merupakan suatu respon fisiologis, psikologis dan perilaku dari manusia

yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan

eksternal. Sedangkan stressor adalah kejadian, situasi, seseorang atau suatu

  • obyek yang dilihat sebagai unsur yang menimbulkan stress dan menyebabkan reaksi stress sebagai hasilnya.

Gangguan pada pola menstruasi ini melibatkan mekanisme regulasi

intergratif yang mempengaruhi proses biokimia dan seluler seluruh tubuh

termasuk otak dan psikologis. Pengaruh otak dalam reaksi hormonal terjadi

melalui jalur hipotalamus-hipofisis-ovarium yang meliputi multiefek dan

mekanisme kontrol umpan balik. Pada  keadaan stress terjadi aktivasi pada

amygdala pada sistem limbik. Sistem ini akan menstimulasi pelepasan hormon dari hipotalamus yaitu corticotropic releasing hormone (CRH).  Hormon ini secara langsung akan menghambat sekresi GnRH hipotalamus dari tempat produksinya di nukleus arkuata.  Proses ini kemungkinan terjadi melalui penambahan sekresi opioid endogen.  Peningkatan CRH akan menstimulasi pelepasan endorfin dan adrenocorticotropic hormone (ACTH) ke dalam darah.  Endorfin sendiri diketahui merupakan opiat endogen yang peranannya terbukti dapat mengurangi rasa nyeri.  Sedangkan ACTH dirangsang oleh CRH secara bergelombang dengan ritme diurnal.  Peningkatan kadar ACTH akan menyebabkan peningkatan pada kadar kortisol darah.  Pada wanita dengan gejala amenore hipotalamik menunjukkan keadaan hiperkortisolisme yang disebabkan adanya peningkatan CRH dan ACTH.  Hormon-hormon tersebut secara langsung dan tidak langsung menyebabkan penurunan kadar GnRH, dimana melalui jalan ini maka stress menyebabkan gangguan menstruasi.

Gejala klinis yang tampak terutama adalah amenore, selain itu dapat juga

berupa anovulasi, atau fase luteal yang inadekuat.  Gejala klinis yang timbul ini

tergantung pada derajat penekanan pada GnRH.  Gejala-gejala ini umumnya

bersifat sementara  dan biasanya akan kembali normal apabila stress yang ada

        T3

bisa diatasi.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

status pubertas

Status pubertas

  1. Status pubertas M1A0PO

Penjelasan

  1. M adalah kode yang digunakan di klinik, kode ini terdiri dari M1, M2, M3, M4, dan M5 hal ini disesuaikan dengan stadium Tanner untuk menunjukan adanya pertumbuhan payudara.
  • 11.7 (+ 1.2) thn : payudara  dan kenaikan papilla, areola meluas                 (Tanner 2)
  • 12.4 (+ 1.1) thn:  payudara dan areola meluas, tidak ada pemisahan          (Tanner 3)
  • 12.9 (+ 1.05) thn : Areola dan papilla masih berupa struktur tambahan      (Tanner 4)
  • 14.4 (+ 1.1) thn : Nipple, areola bagian dari payudara                                     (Tanner 5)
  1. A adalah kode yang dugunakan untuk menunjukan pertumbuhan rambut ketisk (Aksila), pertumbuhannya hampir sama dengan pertumbuhan rambut pubik. Kode ini terdiri dari A1, A2, A3, dimana untuk anak dengan usia 12.9 (+ 1.05) thn menurut stadium tanner harusnya sudah tumbuh  90%.
  2. c.       P adalah kode yang digunakan untuk menunjukan pertumbuhan rambut pubik, hal ini berdasarkan stadium Tanner. Kode ini terdiri dari P1, P2, P3, P4, P5.
  • 11.7 (+ 1.2) thn : lurus, medial labia                                                         (Tanner 2)
  • 12.4 (+ 1.1) thn : Mulai keriting, jumlah meningkat,semakin gelap   (Tanner 3)
  • 12.9 (+ 1.05) thn : Kasar, keriting, lebih sedikit dari dewasa             (Tanner 4)
  • 14.4 (+ 1.1) thn : tipe dewasa, menyebar hingga selangkangan      (Tanner 5)

Interpretasi dari Status pubertas M1A0PO adalah perempuan dalam pemicu belum menunjukan adanya pertumbuhan payudara, pertumbuhan aksila yang kurang dan tidak adanya pertumbuhan rambut pubik.

 

  1. Pubertas Prekoks dan Pubertas Tertunda
    1. Klasifikasi penyebab perkembangan seksual prekoks pada manusia
Pubertas Prekoks Sejati

Konstitusional

Serebrum : ganguan yang mengenai hipotalamus posterior

Tumor

Infeksi

Kelainana perkembangan

Prekoks tidak tergantung-gonadotropin

Pseudopubertas prekoks (tanpa spermatogenesis atau perkembangan ovarium)

     Adrenal

Hiperplasia adrenal kongenital virilisasi

Tumor pensekresi androgen (pada pria)

Tumor pensekresi androgen (pada wanita)

Gonad

Tumor sel leydig testis

Tumor sel granulosa ovarium

Lain-lain

  1. Pubertas tertunda atau tidak ada

Pubertas yang belum mulai pada pria 14 tahun dan wanita umur 13 tahun. Penyebabnya dapat bermacam-macam, dari defisiensi hormon seks sampai ke berbagai (sindrom Turner, klinefelter). Pubertas tidak dapat dianggap tertunda secara patologis sampai menarche timbul pada usia 17 tahun atau testis tidak berkembang sampai usia 20 tahun

SUMBER:

  1. Matondang, Corry S, dkk. 2003. Diagnosis Fisis Pada Anak. Jakarta: CV Sagung Seto
  2. Ganong, WF. 2008. Buku Ajar FISIOLOGI KEDOKTERAN. Jakarta: EGC
a

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

tibia vara

Tibia Vara

Tibia vara idiopatik atau penyakit Blount adalah gangguan yang jarang terjadi yang ditandai oleh kelainan pertumbuhan sisi media epifisis tibia proksimal, mengakibatkan angulasi varus progresif di bawah lutut. Tibia vara dapat terjadi pada setiap kelompok umur pada anak yang sedang diklasifikasikan sebagai infantil (1-3 tahun), juvenil (4-10 tahun), dan remaja (11 tahun atau lebih tua). Bentuk juvenil dan remaja biasanya digabung sebagai sebagai tibia vara mulai lambat. Ketiga kelompok ini sama-sama memiliki karakteristik klinis yang relatif lazim, sedang perubahan radiografi pada kelompok mulai lambat kurang menonjol daripada bentuk infantil. Walaupun penyebab tibia vara yang pasti tetap belum diketahui, kelainan ini tampaknya akibat supresi pertumbuhan dari kenaikan gaya kompresif di sisi media lutut.

Manifestasi klinis

Bentuk infantil tibia vara paling lazim, terutama mengenai anak perempuan dan kulit hitam, terdapat obesitas yang nyata, sekitar 80% terjadi bilateral, tonjolan metafisis media hebat, torsi tibia interna, dan ketidaksesuaian panjang kaki. Yang khas pada bentuk juvenil dan remaja (mulai lama) didominasi laki-laki dan kulit hitam, obesitas yang nyata, tinggi normal dan di atas normal, sekitar 50% keterlibatan bilateral, deformitas genu varum progresif lambat, nyeri yang lebih merupakan keluhan utama awal, tidak teraba tonjolan metafisis medial proksimal, torsi tibia interna minimal, kelemahan ligamentum kolaterale mediale ringan, dan ketidaksesuaian panjang tungkai bawah yang ringan. Perbedaan antara tiga kelompok tampak terutama karena umur mulainya, besarnya sisa pertumbuhan, dan besar gaya kompresi medial. Kelompok infantil mempunyai potensi terbesar untuk terjadinya deformitas, dan kelompok remaja mempunyai potensi yang terkecil.

Evaluasi radiografi

Pada anak dengan tibia vara biasanya dilakukan foto rontgen AP pada kedua ekstremitas bawah dan posisi lateral pada ekstremitas yang terkena. Posisi anak berdiri dengan pembebanan memungkinkan terlihatnya deformitas klinis maksimal. Fragmentasi dengan deformitas tahap penonjolan dan penonjolan metafisis tibia medial proksimal merupakan tanda-tanda utama kelompok infantil. Perubahan dalam metafisi tibiale medialis kurang mencolok pada bentuk-bentuk mulai awal, yang ditandai oleh adanya baji bagian medial epifisis, depresi artikuler posteromedial ringan, fisis lengkung ke arah kepala serpiginosa, dan tidak ada fragmentasi atau ringan atau tonjolan metafisis medial proksimal.

Kadang-kadang, atrografi, foto resonansi magnetik, atau tomografi mungkin perlu untuk menilai meniskus, permukaan artikuler tibia proksimal, atau integritas fisis tibia proksimal. Ini biasanya dicadangkan untuk deformitas yang lebih berat.

Penanganan

Penatalaksanaan tibia vara dapat nonoperatif maupun operatif pada bentuk infantilnya. Tibia vara mulai lambat ditangani secara operatif

Nonoperatif

Penatalaksanaan ortotik dapat dipertimbangkan pada anak dengan tibia vara infantil yang berumur 3 tahun atau lebih muda dengan deformitas ringan. Pada sekitar 50% anak yang memenuhi kriteria ini, deformitas dapat terkoreksi secara memadai. Orthosis lutut-pergelangan kaki-kaki harus digunakan dengan satu medial tegak, tampa lutut bergantung. Bantalan dan tali pengikat harus ditempatkan pada femur distal dan tibia proksimal untuk mempergunakan gaya valgus. Orthosis harus dipasang 22-23 jam setiap hari. Trial maksimum 1 tahun manajemen orthotik sekarang dianjurkan. Jika koreksi total tidak dicapai sesudah 1 tahun atau jika penjelekan terjadi selama waktu ini, kemudian terindikasi osteotomi korektif.

Operatif

Indikasi penanganan bedah tibia infantil adalah usia 4 tahun atau lebih, kegagalan penatalaksanaan ortotik, dan deformitas lebih berat. Osteotomi valgus tibia proksimal dan osteotomi diafisis fibula terkait biasanya merupakan prosedur pilihan. Pada tibia vara yang mulai lambat, koreksi juga diperlukan untuk memperbaiki sumbu mekanik lutut. Pilihan bedah yang sama seperti disajikan pada anak yang lebih tua dengan tibia vara infantil dapat diterapkan pada kelompok umur ini. Osteotomi valgus tibia proksimal dan osteotomi diafisis fibula merupakan prosedur yang paling lazim.

Figure 674-9 Anteroposterior radiograph of both knees in Blount disease.

–          Behrman, Richard E, et al. 2000. Ilmu Kesehatan Anak, edisi 15. Jakarta : EGC

Dasar Terapi

  1. Terapi Diet

Terapi diet direncanakan berdasarkan individu. Hal ini bertujuan untuk membuat defisit 500-1000 kkal/hari.

  1. Aktivitas Fisik

Pada penderita obesitas, terapi harus dimulai secara perlahan dan intensitasnya sebaiknya ditingkatkan secara bertahap.

Pasien dapat memulai aktivitas fisik dengan berjalan selama 30 menit dengan jangka waktu 3 kali seminggu dan dapat ditingkatkan intensitasnya selama 45 menit dengan jangka waktu 5 kali seminggu.  Dengan regimen ini, pengeluaran energy tambahan sebanyak 100 sampai 200 kalori per hari dapat dicapai.

  1. Farmakoterapi

Sibutramine dan Orlistat merupakan obat-obatan penurun berat badan untuk penggunaan jangka panjang untuk pasien dengan indikasi obesitas. Sibutramine ditambah diet rendah kalori dan aktivitas fisik terbukti efektif menurnkan berat badan dan mempertahankannya.  Orlistat menghambat absorpsi lemak sebanyak 30 persen. (Sudoyo et.al., 2006).

Sumber : Sudoyo, Aru W. Setiyohadi, Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI

a

Posted in Uncategorized | Leave a comment

fisiologi menstruasi

Menstruasi

Jika ovum tidak dibuahi, kira-kira 2 hari sebelum akhir siklus bulanan, korpus luteum di ovarium tiba-tiba berinvolusi, dan hormon-hormon ovarium (esterogen dan progesteron) menurun dengan tajam sampai kadar sekresi yang rendah.

Menstruasi disebabkan oleh berkurangnya esterogen dan progesteron, terutama progesteron, pada akhir siklus ovarium bulanan. Efek pertama adalah penurunan rangsangan terhadap sel-sel endometrium oleh kedua hormon ini, yang diikuti dengan cepat oleh involusi endometrium sendiri menjadi kira-kira 65 persen dari ketebalan semula. Kemudian, selama 24 jam sebelum terjadinya menstruasi, pembuluh darah yang berkelok-kelok, yang mengarah ke lapisan mukosa endometrium, akan menjadi vasospastik, mungkin disebabkan oleh efek involusi, seperti pelepasan bahan vasokonstriktor – mungkin salah satu tipe vasokonstriktor prostaglandin yang terdapat dalam jumlah sangat banyak pada saat ini.

Vasospasme, penurunan zat nutrisi endometrium, dan hilangnya rangsangan hormonal menyebabkan dimulainya proses nekrosis pada endometrium, khususnya dari pembuluh darah. Sebagai akibatnya, darah akan merembes ke lapisan vaskular endometrium, dan daerah perdarahan akan bertambah besar dengan cepat dalam waktu 24 sampai 36 jam. Perlahan-lahan, lapisan nekrotik bagian luar dari endometrium terlepas dari uterus pada daerah perdarahan tersebut, sampai kira-kira 48 jam setelah terjadinya menstruasi, semua lapisan superfisial endometrium sudah berdeskuamasi. Massa jaringan deskuamasi dan darah di dalam kavum uteri, ditambah efek kontraksi dari prostaglandin atau zat-zat lain di dalam lapisan yang terdeskuamasi, seluruhnya bersama-sama akan merangsang kontraksi uterus yang menyebabkan dikeluarkannya isi uterus.

Selama menstruasi normal, kira-kira 40 mililiter darah dan tambahan 35 ml cairan serosa dikeluarkan. Cairan menstruasi  ini normalnya tidak membentuk bekuan, karena fibrinosin dilepaskan bersama dengan bahan nekrotik endometrium. Bila terjadi perdarahan yang berlebihan dari permukaan uterus, jumlah fibrinolisin mungkin tidak cukup untuk mencegah pembekuan. Adanya bekuan darah selama menstruasi sering merupakan bukti klinis adanya kelainan patologi dari uterus.

Dalam waktu 4 sampai 7 hari sesudah dimulainya menstruasi, pengeluaran darah akan berhenti, karena pada saat ini endometrium sudah mengalami epitelisasi kembali.

Sumber: Fisiologi Guyton Hall Edisi 11 tahun 2006, EGC

Sumber: Fisiologi Guyton Hall Edisi 11 tahun 2006, EGC

a

Posted in Uncategorized | Leave a comment

tingakat kesadaran

Tingkat Kesadaran

( Macam-macam Tingkat Kesadaran )

Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan, tingkat kesadaran dibedakan menjadi :

  1. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya..
  2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
  3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.
  4. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
  5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.
  6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).

Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala.

Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian).

Jadi sangat penting dalam mengukur status neurologikal dan medis pasien. Tingkat kesadaran ini bisa dijadikan salah satu bagian dari vital sign.

Penyebab Penurunan Kesadaran

Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia); kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok); penyakit metabolic seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis) ; pada keadaan hipo atau hipernatremia ; dehidrasi; asidosis, alkalosis; pengaruh obat-obatan, alkohol, keracunan: hipertermia, hipotermia; peningkatan tekanan intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak); infeksi (encephalitis); epilepsi.

Mengukur Tingkat Kesadaran

Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran.

Metoda lain adalah menggunakan sistem AVPU, dimana pasien diperiksa apakah sadar baik (alert), berespon dengan kata-kata (verbal), hanya berespon jika dirangsang nyeri (pain), atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri (unresponsive).

Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada respon (unresponsiveness).

a

a

Posted in Uncategorized | Leave a comment

obesitas

6.1.Obesitas

6.1.1 Definisi Obesitas

Obesitas merupakan keadaan patologis, yaitu dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh yang normal.

Untuk menentukan obesitas diperlukan kriteria yang berdasarkan pengukuran antropometri dan atau pemeriksaan laboratorik, pada umumnya digunakan:

  1. Pengukuran berat badan (BB) yang dibandingkan dengan standar dan disebut obesitas bila BB > 120% BB standar.
  2. Pengukuran berat badan dibandingkan tinggi badan (BB/TB). Dikatakan obesitas bila BB/TB > persentile ke 95 atau > 120%  atau Z-score ≥ + 2 SD.
  3. Pengukuran lemak subkutan dengan mengukur skinfold thickness (tebal lipatan kulit/TLK). Sebagai indikator obesitas bila TLK Triceps > persentil ke 85.
  4. Pengukuran lemak secara laboratorik, misalnya densitometri, hidrometri dsb. yang tidak digunakan pada anak karena sulit dan tidak praktis. DXA adalah metode yang paling akurat, tetapi tidak praktis untuk dilapangan.
  5. Indeks Massa Tubuh (IMT), > persentil ke 95 sebagai indikator obesitas.
  1. Klasifikasi

Menurut gejala klinisnya, obesitas dibagi menjadi :

1. Obesitas sederhana (Simple Obesity)

Terdapat gejala kegemukan saja tanpa disertai kelainan hormonal/mental/fisik lainnya, obesitas ini terjadi karena faktor nutrisi.

2. Bentuk khusus obesitas

  1. Kelainan endokrin/hormonal

Tersering adalah sindrom Cushing, pada anak yang sensitive terhadap pengobatan dengan hormone steroid.

  1. Kelainan somatodismorfik

Sindrom Prader-Willi, sindrom Summit dan Carpenter, sindrom Laurence-Moon-Biedl, dan sindrom Cohen.Obesitas pada kelainan ini hampir selalu disertai mental retardasi dan kelainan ortopedi.

  1. Kelainan hipotalamus

Kelainan pada hipotalamus yang mempengaruhi nafsu makan dan berakibat terjadinya obesitas, sebagai akibat dari kraniofaringioma, leukemia serebral, trauma kepala, dan lain-lain.

6.1.2 Perjalanan Perkembangan Obesitas

Menurut Dietz terdapat 3 periode kritis dalam masa tumbuh kembang anak dalam kaitannya dengan terjadinya obesitas, yaitu: periode pranatal, terutama trimester 3 kehamilan, periode adiposity rebound pada usia 6 – 7 tahun  dan periode adolescence.

Pada bayi dan anak yang obesitas, sekitar 26,5% akan tetap obesitas untuk 2 dekade berikutnya dan 80% remaja yang obesitas akan menjadi dewasa yang obesitas.Menurut Taitz, 50% remaja yang obesitas sudah mengalami obesitas sejak bayi.  Sedang penelitian di Jepang menunjukkan 1/3 dari anak obesitas tumbuh menjadi obesitas dimasa dewasa1 dan risiko obesitas ini diperkirakan sangat tinggi, dengan OR 2,0 – 6,7.

Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa obesitas pada usia 1-2 tahun dengan orang tua normal, sekitar 8% menjadi obesitas dewasa, sedang obesitas pada usia 10-14 tahun dengan salah satu orang tuanya obesitas, 79% akan menjadi obesitas dewasa.

6.1.3 Etiologi

A.  Faktor lingkungan

Hampir seluruh obesitas anak sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, baik tingkat aktivitas fisik yang rendah atau asupan kalori yang terlalu besar. Waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi berhubungan langsung dengan angka obesitas anak dan remaja, dan efek ini dapat terus berlanjut ke usia dewasa. Dalam dua studi, waktu menonton televisi pada usia 5 tahun ke atas memiliki korelasi dengan meningkatnya BMI pada usia 26-30 tahun. Satu studi lain menunjukkan bahwa efek televisi terhadap obesitas terutama disebabkan perubahan dalam asupan energi. Mengurangi waktu menonton televisi dan bermain komputer selama 2 tahun pada anak usia 4-7 tahun yang overweight terbukti efektif untuk mengurangi BMI dan asupan energi tanpa perubahan dalam aktivitas fisik. Video game yang memerlukan aktivitas fisik interaktif dari pemainnya, walaupun terbukti meningkatkan pemakaian energi selama permainan, tidak memiliki efek jangka panjang terhadap obesitas dan penggunaannya menurun tajam seiring waktu.

Penelitian juga menunjukkan hubungan antara waktu tidur yang kurang dengan obesitas atau resistensi terhadap insulin. Mekanisme hubungan ini diperkirakan berhubungan dengan perubahan kadar leptin dan ghrelin dalam serum, atau tersedianya waktu yang lebih banyak untuk mengkonsumsi makanan pada anak yang tidur lebih sedikit.

B.  Faktor genetik

Studi yang ada menunjukkan bahwa keturunan berperan dalam 30-50% variasi akumulasi jaringan lemak, namun polimorfisme genetik untuk hal ini belum ditemukan. Beberapa sindrom spesifik dan kelainan gen tunggal yang terkait dengan obesitas anak telah ditemukan. Semua ini adalah penyebab yang sangat jarang untuk obesitas anak, hanya mencakup kurang dari 1% obesitas anak yang dijumpai di pusat-pusat penelitian. Selain obesitas, anak dengan sindrom genetik ini umumnya memiliki temuan karakteristik dalam pemeriksaan fisik.

  1. Faktor endokrin

Faktor endokrin sebagai penyebab ditemukan hanya dalam kurang dari 1% obesitas anak dan remaja, beberapa di antaranya adalah hipotiroid, kelebihan kortisol (penggunaan kortikosteroid, Cushing syndrome), defisiensi hormon pertumbuhan, dan lesi hipotalamus (infeksi, malformasi vaskular, neoplasma, atau trauma). Anak dengan masalah endokrin umumnya berpostur pendek dan/atau mengalami hypogonadism.

6.1.4 Mekanisme Regulasi Keseimbangan  Energi dan Berat Badan

Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis, yaitu: pengendalian rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran energi dan regulasi sekresi hormon yang terlibat dalam pengaturan penyimpanan energi, melalui sinyal-sinyal efferent yang berpusat di hipotalamus setelah mendapatkan sinyal afferent dari perifer terutama dari jaringan adipose tetapi juga dari usus dan jaringan otot. Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan asupan makanan, menurunkan pengeluaran energi) dan katabolik (anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang.

Sinyal pendek (situasional) yang mempengaruhi porsi makan dan waktu makan serta berhubungan dengan faktor distensi lambung dan peptida gastrointestinal, yaitu kolesistokinin (CCK) yang mempunyai peranan paling penting dalam menurunkan porsi makan dibanding glukagon, bombesin dan somatostatin. Sinyal panjang yang diperankan oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan dan keseimbangan  energi. Didalam system ini leptin memegang peran utama sebagai pengendali berat badan. Sumber utama leptin adalah jaringan adiposa, yang disekresi langsung masuk ke peredaran darah dan kemudian menembus sawar darah otak menuju ke hipotalamus. Apabila asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan maka massa  jaringan adiposa meningkat, disertai dengan  peningkatan kadar leptin dalam peredaran darah. Leptin kemudian merangsang anorexigenic center di hipotalamus agar menurunkan produksi NPY, sehingga terjadi penurunan nafsu makan dan asupan makanan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan energi lebih besar dari asupan energi, maka  massa jaringan adiposa berkurang dan terjadi rangsangan pada orexigenic center di hipotalamus yang menyebabkan peningkatan nafsu makan dan asupan makanan. Pada sebagian besar orang obesitas, mekanisme ini tidak berjalan walaupun kadar leptin didalam darah tinggi dan disebut sebagai resistensi leptin.

Beberapa neurotransmiter, yaitu norepineprin, dopamin, asetilkolin dan serotonin berperan juga dalam regulasi keseimbangan energi, demikian juga dengan beberapa neuropeptide dan hormon perifer yang juga mempengaruhi asupan makanan dan berperan didalam pengendalian kebiasaan makan. Neuropeptide-neuropeptide ini meliputi neuropeptide Y (NPY), melanin-concentrating hormone, corticotropin-releasing hormone (CRH), bombesin dan somatostatin. NPY dan CRH terdapat di nukleus paraventrikuler (PVN) yang terletak di bagian dorsal dan rostral ventromedial hypothalamic (VMH), sehingga lesi pada daerah ini akan mempengaruhi  kebiasaan makan dan keseimbangan energi. NPY  merupakan neuropeptida perangsang nafsu makan dan diduga berperan didalam respon fisiologi terhadap starvasi  dan obesitas.

Nukleus VMH  merupakan satiety center / anorexigenic center . Stimulasi pada nukleus VMH akan menghambat asupan makanan dan kerusakan nukleus ini akan menyebabkan makan yang berlebihan (hiperfagia) dan obesitas. Sedang nukleus area lateral hipotalamus (LHA) merupakan feeding center / orexigenic center  dan memberikan pengaruh yang berlawanan.

Leptin dan insulin yang bekerja pada nukleus arcuatus (ARC), merangsang neuron proopimelanocortin / cocain and amphetamine-regulated transcript (POMC/ CART) dan menimbulkan efek katabolik (menghambat nafsu makan, meningkatkan pengeluaran energi) dan pada saat yang sama menghambat  neuron NPY/AGRP (agouti related peptide) dan menimbulkan efek anabolik (merangsang nafsu makan, menurunkan pengeluaran energi). Pelepasan neuropeptida-neuropeptida NPY/AGRP dan POMC/CART  oleh neuron-neuron tersebut kedalam nukleus PVN dan LHA,  yang selanjutnya akan memediasi efek insulin dan leptin dengan cara mengatur respon neuron-neuron dalam nukleus traktus solitarius  (NTS) di otak belakang terhadap sinyal rasa kenyang (oleh kolesistokinin dan distensi lambung) yang timbul setelah makan. Sinyal rasa kenyang ini menuju NTS terutama melalui nervus vagus. Jalur descending anabolik dan katabolik diduga mempengaruhi respon neuron di NTS yang mengatur penghentian makan. Jalur katabolik meningkatkan dan jalur anabolik menurunkan efek sinyal kenyang jalur pendek, sehingga menyebabkan  penyesuaian porsi makan yang mempunyai efek jangka panjang pada perubahan asupan makan dan berat badan.

6.1.5  Metabolic programming

Akhir-akhir ini telah ditemukan bahwa pengaruh lingkungan dan nutrisi selama masa kritikal dalam perkembangan dapat mempengaruhi predisposisi seseorang untuk menjadi obese atau mengalami penyakit metabolik. Penelitian juga membuktikan adanya hubungan antara berat lahir (sebagai refleksi nutrisi selama kehamilan) dengan diabetes, penyakit jantung, dan obesitas di usia dewasa. Studi lain juga menunjukkan hubungan konsisten antara laju pertambahan berat badan selama masa kanak-kanak dengan obesitas di usia remaja atau dewasa, laju pertambahan yang diinginkan adalah yang moderat. Beberapa faktor endokrin maternal juga mempengaruhi obesitas anak. Dalam satu penelitian, usia menarche yang lebih muda adalah prediktor status obesitas anak. Laju pertumbuhan anak dari ibu dengan menarche di usia muda juga lebih cepat dalam 2 tahun pertama kehidupan.

6.1.5  Epidemiologi

Penelitian perseorangan pada telah menggambarkan prevalensi obesitas masa anak 7-43% (Canada), 7,3% (United Kingdom) dan 27,1% pada umur 6-11 dan 21,9% pada umur 12-17 tahun (Amerika Serikat). Insidens obesitas masa anak di amerika serikat diperkirakan 10-15%; Di indonesia kejadian obesitas hanya terdapat pada anak dari beberapa keluarga yang tergolong mampu. Obesitas dapat terjadi pada semua golongan umur, tapi tersering di jumpai pada bayi, anak berumur 5-6 tahun dan golongan remaja, terutama anak perempuan. Selanjutnya obesitas lebih sering ditemukan pada anggota keluargadengan salah seeorang (terutama ibu) atau kedua orang tuanya juga menderita obesitas.

6.1.7        Diagnosis

Menentukan diagnosis obesitas tidak selalu mudah, karena tidak ada garis pembatas yang jelas antara gizi baik dan gizi lebih. Diagnosis didasarkan atas gejala klinis dan hasil pemeriksaan antropometrik, yang mencakup pengukuran BB,TB, lingkaran lengan atas, serta tebal lipatan kulit dan subkutan lengan atas kanan bagian belakang tengah, sebelah atas otot triseps. Diagnosis ditegakkan bila ditemkan gejala klinis obesitas, disertai dengan adanya data antropometrik untuk perbandingan BB dan TB, lingkaran lengan atas dan tebalnya lapisan kulit, paling sedikit 10% di atas nilai normal.

(sumber: markum, A.H, et all.2002. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak jilid 1. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia)

a

Posted in Uncategorized | Leave a comment

tatalaksana obesitas pada anak

Tatalaksana Obesitas Pada Anak Mengingat penyebab obesitas bersifat multifaktor, maka penatalaksanaan obesitas seharusnya dilaksanakan secara multidisiplin dengan mengikut sertakan keluarga dalam proses terapi obesitas. Prinsip dari tatalaksana obesitas adalah mengurangi asupan energi serta meningkatkan keluaran energi, dengan cara pengaturan diet, peningkatan aktifitas fisik, dan mengubah / modifikasi pola hidup. A. Menetapkan target penurunan berat badan Untuk penurunan berat badan ditetapkan berdasarkan: umur anak, yaitu usia 2 – 7 tahun dan diatas 7 tahun, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit penyerta/komplikasi. Pada anak obesitas tanpa komplikasi dengan usia dibawah 7 tahun, dianjurkan cukup dengan mempertahankan berat badan, sedang pada obesitas dengan komplikasi pada anak usia dibawah 7 tahun dan obesitas pada usia diatas 7 tahun dianjurkan untuk menurunkan berat badan. Target penurunan berat badan sebesar 2,5 – 5 kg atau dengan kecepatan 0,5 – 2 kg per bulan.5 B. Pengaturan diet Prinsip pengaturan diet pada anak obesitas adalah diet seimbang sesuai dengan RDA, hal ini karena anak masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan.5 Intervensi diet harus disesuaikan dengan usia anak, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit penyerta. Pada obesitas sedang dan tanpa penyakit penyerta, diberikan diet seimbang rendah kalori dengan pengurangan asupan kalori sebesar 30%. Sedang pada obesitas berat (IMT > 97 persentile) dan yang disertai penyakit penyerta, diberikan diet dengan kalori sangat rendah (very low calorie diet ).12 Dalam pengaturan diet ini perlu diperhatikan tentang 5: 1. Menurunkan berat badan dengan tetap mempertahankan pertumbuhan normal. 2. Diet seimbang dengan komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 20-30% dengan lemak jenuh < 10% dan protein 15-20% energi total serta kolesterol < 300 mg per hari. 3. Diet tinggi serat, dianjurkan pada anak usia > 2 tahun dengan penghitungan dosis menggunakan rumus: (umur dalam tahun + 5) gram per hari. C. Pengaturan aktifitas fisik Peningkatan aktifitas fisik mempunyai pengaruh terhadap laju metabolisme. Latihan fisik yang diberikan disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik, kemampuan fisik dan umurnya. Aktifitas fisik untuk anak usia 6-12 tahun lebih tepat yang menggunakan ketrampilan otot, seperti bersepeda, berenang, menari dan senam. Dianjurkan untuk melakukan aktifitas fisik selama 20-30 menit per hari.5 Tabel Jenis kegiatan dan jumlah kalori yang dibutuhkan Jenis kegiatan Kalori yang digunakan/jam Jalan kaki 3 km/jam Jalan kaki 6 km/jam Joging 8 km/jam Lari 12 km/jam Tenis tunggal Tenis ganda Golf Berenang Bersepeda 150 300 480 600 360 240 180 350 660 D. Mengubah pola hidup/perilaku Untuk perubahan perilaku ini diperlukan peran serta orang tua sebagai komponen intervensi, dengan cara: 1. Pengawasan sendiri terhadap: berat badan, asupan makanan dan aktifitas fisik serta mencatat perkembangannya. 2. Mengontrol rangsangan untuk makan. Orang tua diharapkan dapat menyingkirkan rangsangan disekitar anak yang dapat memicu keinginan untuk makan. 3. Mengubah perilaku makan, dengan mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi dan mengurangi makanan camilan. 4. Memberikan penghargaan dan hukuman. 5. Pengendalian diri, dengan menghindari makanan berkalori tinggi yang pada umumnya lezat dan memilih makanan berkalori rendah.5 E. Peran serta orang tua, anggota keluarga, teman dan guru. Orang tua menyediakan diet yang seimbang, rendah kalori dan sesuai petunjuk ahli gizi. Anggota keluarga, guru dan teman ikut berpartisipasi dalam program diet, mengubah perilaku makan dan aktifitas yang mendukung program diet.12 F. Terapi intensif 5,12 Terapi intensif diterapkan pada anak dengan obesitas berat dan yang disertai komplikasi yang tidak memberikan respon pada terapi konvensional, terdiri dari diet berkalori sangat rendah (very low calorie diet), farmakoterapi dan terapi bedah. 1. Indikasi terapi diet dengan kalori sangat rendah bila berat badan > 140% BB Ideal atau IMT > 97 persentile, dengan asupan kalori hanya 600-800 kkal per hari dan protein hewani 1,5 – 2,5 gram/kg BB Ideal, dengan suplementasi vitamin dan mineral serta minum > 1,5 L per hari. Terapi ini hanya diberikan selama 12 hari dengan pengawasan dokter. 2. Farmakoterapi dikelompokkan menjadi 3, yaitu: mempengaruhi asupan energi dengan menekan nafsu makan, contohnya sibutramin; mempengaruhi penyimpanan energi dengan menghambat absorbsi zat-zat gizi contohnya orlistat, leptin, octreotide dan metformin; meningkatkan penggunaan energi. Farmakoterapi belum direkomendasikan untuk terapi obesitas pada anak, karena efek jangka panjang yang masih belum jelas. 3. Terapi bedah di indikasikan bila berat badan > 200% BB Ideal. Prinsip terapi ini adalah untuk mengurangi asupan makanan atau memperlambat pengosongan lambung dengan cara gastric banding, dan mengurangi absorbsi makanan dengan cara membuat gastric bypass dari lambung ke bagian akhir usus halus. Sampai saat ini belum banyak penelitian tentang manfaat dan bahaya terapi ini pada a

Posted in Uncategorized | Leave a comment

embriologi sistem gastrointestinal

USUS TENGAH

Pada mudigah 5 minggu,usus tengah tergantung pada didinding didnding abdomen  dorsal oleh sebuah mesentrium pendek dan berhubungan dengan yolk sac melalui duktus vitelinus atau yolk stalk.Pada orang dewasa,usus tengah dimulai tepat  di sebelah distal muara dukus biliaris ke dalam duodenum dan berahkir di antara taut dua pertiga proksimal kolon transversum dan sepertiga distalnya.Seluruh panjang usus tengah didarahi  oleh arteri mesentrika superior.

Perkembangan usus tengah ditandai oleh pemanjangan cepat usus dan mesentriumnya sehingga  terbentuk  lengkung primer.Di puncaknya,lengkung tetap berhubungan langsung dengan yolk sac melalui duktus vitelinus yang sempit.Bagian sefalik  dari lengkung berkembang menjadi  bagian distal duodenum,jejunum,dan sebagian ileum.Bagian kaudal menjadi bagian bawah  ileum,saekum,apendiks,kolon ascendens,dan dua pertiga proksimal kolon transversum.

Herniasi Fisiologis

Perkembangan lengkung usus primer ditandai oleh pemanjangan yang pesat oleh,terutama dibagian sefalik.akibat pertumbuhan yang pesat dan ekspansi hati,rongga abdomen untuk sementara menjadi terlalu kecil untuk menampung semua lengkung usus,dan lengkung tersebut masuk kerongga ekstraembrional di tali pusat selama minggu ke enam perkembangan.

Rotasi Usus Tengah

Bersamaan dengan pertambahan panjangnya,lengkung usus primer berputar mengelilingi suatu sumbu yang di bentuk oleh arteri mesentrika superior.Jika dilihat dari depan,perputaran ini berlawanan dengan arah jarum jam ,dan besarnya sekitar 2700  setelah selesai.Bahkan sewaktu rotasi,lengkung usus halus terus memanjang, dan jejunum dan ileum membentuk sejumlah lengkung berbentuk kumparan.Usus besar juga memanjang tetapi tidak ikut membentuk kumparan.Rotasi terjadi selama herniasi (sekitar 900 ),serta selama kembalinya lengkung usus ke dalam rongga abdomen.(1800  sisanya).

Retraksi Lengkung yang Mengalami Herniasi

Selama minggu ke 10,,lengkung usus yang mengalamai herniasi mulai kembali ke rongga abdoen.Meskipun faktor faktor yang berperan dalam pengembalian ini belum diketahiu secara pasti,diperkirakan bahwa regenerasi ginjal mesonefrik,berkurangya pertumbuhan hati,dan ekspansi rongga abdomen berperan penting.

Bagian proksimal jejunum,bagian pertama yang masuk kembali ke dalam rongga abdomen,kemudian terletak disis kiri.lengkung lengkung yang masuk belakangan secara bertahap menetap semakin ke kanan.Tunas saekum yang muncul pada minggu ke 6 sebagai suatu pelebaran  kecil berbentuk kerucut di bagian  kaudal  lengkung  usus  primer  adalah  bagian  terakhir usus yang masuk ke dalam rongga abdomen.Untuk sementara bagian ini berada pada kuadaran kanan atas tepat dibawah lobus kanan hati.Dari sini,bagian tersebut turun ke dalam fosa iliaka kanan,menempatkan kolon ascenden dan fleksura hepatica disisi kanan rongga abdomen .Selama proses ini ujung distal tunas saekum membentuk divertikulum sempit,Apendiks.

USUS BELAKANG

Usus belakang menghasilkan sepertiga distal kolontransversum,kolon descendens.kolon sigmoideum,rectum dan  bagian atas kanalis analis.Endoderm usus belakang juga membentuk lapisan dalam kandung kemih dan uretra.

Bagian terminal usus belakang masuk kedalam daerah posterior kloaka,Kloaka anorektalis primitive,alantosis masuk kedalam bagian anterior,sinus urogenitalis primitive.Kloaka itu sendiri adalah suatu rongga yang dilapisi oleh suatu endoderm dan di bungkus di bagian ventralnya oleh ectoderm permukaan .batas antara endoderm dan ectoderm ini membentuk membran kloakalis.Suatu lapisan mesoderm,septum urorektale,memisahkan region antara alantosis dan usus belakang.septum ini berasal dari enyatuan mesoderm yang menutupi yolk sac dan alantosis disekitarnya.Seirirng dengan pertumbuhan mudigah dan berlanjutnya lipatan di kaudal ,ujung septum urorektale akhirnya berada dekat dengan membrane kloakalis,meskipun kedua struktur tidak pernah berkontak. Pada akhir minggu ketujuh ,membrane kloakalis pecah ,menciptakan lubang anus untuk usus belakang dan lubang ventral untuk sinus urogenitalis.

embriologi langerhans

Posted in Uncategorized | Leave a comment

keseimbangan cairan,elektrolit,asam dan basa

KESEIMBANGAN CAIRAN, ELEKROLIT, ASAM DAN BASA

Cairan  dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan  ion-ion yang diperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang, dan menjalankan fungsinya.   Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di  sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut  homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh  mempertahankan  keseimbangan antara substansi-substansi yang ada di milieu interior.

Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 (dua) parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan  ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan  ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan  keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urin sesuai kebutuhan untuk  mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.  Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur  keluaran ion hidrogen dan ion bikarbonat dalam urin sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang  turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresi ion  hidrogen dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh.

Komposisi  Cairan Tubuh

Telah disampaikan  di atas bahwa  cairan dalam tubuh meliputi lebih kurang 60% total berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan tubuh ini bervariasi antara individu sesuai dengan jenis kelamin dan umur individu tersebut. Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dati total berat badan. Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relative lebih besar dibandingkan orang dewasa dan lansia. Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel. Dua pertiga bagian (67%)  dari cairan tubuh berada di dalam sel (cairan intrasel/CIS) dan sepertiganya (33%) berada di luar  sel (cairan ekstrasel/ CES). CES dibagi cairan intravaskuler atau plasma darah yang meliputi 20% CES atau 15% dari total berat badan, dan cairan intersisial yang mencapai 80% CES atau  5% dari total berat badan. Selain kedua kompartmen tersebut, ada kompartmen lain yang  ditempati cairan tubuh, yaitu cairan transel. Namun, volumenya diabaikan karena kecil, yaitu  cairan sendi, cairan otak, cairan perikard, liur pencernaan, dll. Ion Na+  dan Cl-  terutama  terdapat pada cairan ekstrasel, sedangkan ion K+  di cairan intrasel. Anion protein tidak tampak  dalam cairan intersisial karena jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan intrasel dan  plasma.

Perbedaan komposisi cairan tubuh berbagai kompartmen terjadi karena adanya barier yang  memisahkan mereka. Membran sel memisahkan cairan intrasel dengan cairan intersisial,  sedangkan dinding kapiler memisahkan cairan intersisial dengan plasma. Dalam keadaan  normal, terjadi keseimbangan susunan dan volume cairan dan elektrolit antar kompartmen.  Bila terjadi perubahan konsentrasi atau tekanan di salah satu kompartmen, maka akan terjadi  perpindahan cairan atau ion antar kompartmen sehingga terjadi keseimbangan kembali.

Perpindahan Substansi Antar Kompartmen

Setiap kompartmen dipisahkan oleh barier atau membran yang membatasi mereka. Setiap zat  yang akan pindah harus dapat menembus barier atan membran tersebut. Bila substansi zat 3 tersebut dapat melalui membran, maka membran tersebut permeabel terhadap zat tersebut.  Jika tidak dapat menembusnya, maka  membran tersebut tidak permeable untuk substansi  tersebut. Membran disebut semipermeabel (permeabel selektif) bila beberapa partikel dapat  melaluinya tetapi partikel lain tidak dapat menembusnya.

Perpindahan substansi melalui membran ada yang secara aktif atau pasif. Transport aktif membutuhkan energi, sedangkan transport pasif tidak membutuhkan energi.

Difusi

Partikel (ion atau molekul) suatu substansi yang terlarut selalu bergerak dan cenderung  menyebar dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi  yang lebih rendah sehingga konsentrasi substansi partikel tersebut merata. Perpindahan partikel seperti ini disebut difusi.  Beberapa faktor yang mempengaruhi laju difusi ditentukan sesuai dengan hukum Fick (Fick’s  law of diffusion). Faktor-faktor tersebut adalah:

1. Peningkatan perbedaan konsentrasi substansi.

2. Peningkatan permeabilitas.

3. Peningkatan luas permukaan difusi.

4. Berat molekul substansi.

5. Jarak yang ditempuh untuk difusi

Osmosis

Bila suatu substansi larut dalam air, konsentrasi air dalam larutan tersebut lebih rendah  dibandingkan konsentrasi air dalam larutan air murni dengan volume yang sama. Hal ini  karena tempat molekul air telah ditempati oleh molekul  substansi tersebut. Jadi bila  konsentrasi zat yang terlarut meningkat, konsentrasi air akan menurun.

Bila suatu larutan dipisahkan oleh suatu membran yang semipermeabel dengan larutan yang  volumenya sama namun berbeda konsentrasi zat yang terlarut, maka terjadi perpindahan air/  zat pelarut dari larutan dengan konsentrasi zat terlarut yang rendah ke larutan dengan  konsentrasi zat terlarut lebih tinggi. Perpindahan seperti ini disebut dengan osmosis.

Filtrasi

Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara dua  ruang yang dibatasi oleh membran. Cairan akan keluar dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Jumlah cairan yang keluar sebanding dengan besar perbedaan  tekanan, luas permukaan  membran, dan permeabilitas membran. Tekanan yang mempengaruhi filtrasi ini disebut  tekanan hidrostatik.

Transport aktif

Transport aktif diperlukan untuk mengembalikan partikel yang telah berdifusi secara pasif dari daerah yang konsentrasinya rendah ke daerah yang konsentrasinya lebih tinggi. Perpindahan  seperti ini membutuhkan energi (ATP) untuk melawan perbedaan konsentrasi. Contoh: Pompa  Na-K.

Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 (dua) parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan  ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan  ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan  keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urin sesuai kebutuhan untuk  mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut.

1. Pengaturan volume cairan ekstrasel

Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan  menurunkan volume plasma. Sebaliknya, peningkatan volume cairan ekstrasel dapat  menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma. Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka  panjang.

Pengaturan volume cairan ekstrasel dapat dilakukan dengan cara sbb.:

a. Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake & output) air

Untuk mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap, maka harus ada

keseimbangan antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini terjadi

karena adanya pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan

luarnya. Water turnover dibagi dalam:

1. External fluid exchange, pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar. (Gambar 3)

1.1. Pemasukan air melalui  makanan dan minuman                       2200 ml

air metabolisme/oksidasi                         300 ml

————-

2500 ml

1.2. Pengeluaran air melalui insensible loss (paru-paru & kulit)       900 ml

urin                                                             1500 ml

feses                                                             100 ml

————-

2500 ml

2. Internal fluid exchange, pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen, seperti proses   filtrasi dan reabsorpsi di kapiler ginjal.

b. Memperhatikan keseimbangan garam

Seperti halnya keseimbangan air, keseimbangan garam juga perlu dipertahankan   sehingga asupan  garam sama dengan keluarannya. Permasalahannya adalah seseorang    hamper  tidak  pernah memperhatikan jumlah garam yang ia konsumsi sehingga sesuai   dengan kebutuhannya. Tetapi, seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya  dan cenderung lebih dari kebutuhan.Kelebihan garam yang dikonsumsi harus   diekskresikan dalam urin untuk  mempertahankan keseimbangan garam.

Ginjal mengontrol jumlah garam yang diekskresi dengan cara:

1. Mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi

Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate(GFR).

2. Mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal 6 Jumlah Na+  yang direabsorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol    tekanan darah. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi    Na + dan  retensi Na+  di tubulus distal dan collecting. Retensi Na+ meningkatkan  retensi air  sehingga meningkatkan volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan darah  arteri .

Selain sistem renin-angiotensin-aldosteron,  Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau  hormon atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium dan air. Hormon ini disekresi oleh  sel atrium jantung jika mengalami distensi akibat peningkatan volume plasma. Penurunan  reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal  meningkatkan eksresi urin  sehingga mengembalikan volume darah kembali normal.

2.  Pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel

Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu  larutan. Semakin tinggi osmolaritas, semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin  rendah konsentrasi air dalam larutan tersebut. Air akan berpindah dengan cara osmosis  dari area yang konsentrasi solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang  konsentrasi solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih rendah).

Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat menembus membran plasma di intrasel dan ekstrasel. Ion natrium  merupakan solut yang banyak  ditemukan di cairan ekstrasel, dan ion utama yang berperan penting dalam menentukan  aktivitas osmotik cairan ekstrasel. Sedangkan di dalam cairan intrasel, ion kalium  bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Distribusi yang  tidak merata  dari ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan kadar kedua ion ini  bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini.

Pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan melalui:

a. Perubahan osmolaritas di nefron 7

Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal, terjadi perubahan osmolaritas  yang pada akhirnya akan membentuk urin yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh  secara keseluruhan di duktus koligen. Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotik  di tubulus proksimal (± 300 mOsm). Dinding tubulus ansa Henle pars desending sangat  permeable terhadap air, sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi cairan ke kapiler  peritubular atau vasa recta. Hal ini menyebabkan cairan di dalam lumen tubulus menjadi  hiperosmotik.

Dinding tubulus ansa henle pars asenden tidak permeable terhadap air dan secara aktif  memindahkan NaCl keluar tubulus. Hal ini menyebabkan reabsorbsi garam tanpa  osmosis air. Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadi  hipoosmotik. Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus koligen bervariasi bergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH). Sehingga urin yang dibentuk di  duktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung pada ada tidaknya vasopresin/ ADH.

b. Mekanisme haus dan peranan vasopresin (anti diuretic hormone/ ADH)

Peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (> 280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor  di hypothalamus. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypothalamus yang  menyintesis vasopressin. Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam  darah dan akan berikatan dengan reseptornya di duktus koligen. Ikatan vasopressin  dengan resptornya di duktus koligen memicu terbentuknya aquaporin, yaitu kanal air di  membrane bagian apeks duktus koligen. Pembentukan aquaporin ini memungkinkan  terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta. Hal ini menyebabkan urin yang terbentuk di  duktus koligen menjadi sedikit dan hiperosmotik atau pekat, sehingga cairan di dalam tubuh tetap dapat dipertahankan.

Selain itu, rangsangan pada osmoreseptor di hypothalamus akibat peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypothalamus  sehingga terbentuk perilaku untuk mengatasi haus, dan cairan di dalam tubuh kembali  normal.

Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Sebagai kesimpulan, pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit diperankan oleh  system saraf dan sistem endokrin. Sistem saraf mendapat informasi adanya perubahan  keseimbangan cairan dan elektrolit melali baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotiikus, osmoreseptor di hypothalamus, dan volumereseptor atau reseptor regang di atrium. Sedangkan dalam sistem endokrin, hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami  kekurangan cairan adalah Angiotensin II, Aldosteron, dan  Vasopresin/ ADH dengan  meningkatkan reabsorbsi natrium dan air. Sementara, jika terjadi peningkatan volume  cairan tubuh, maka hormone atripeptin (ANP) akan meningkatkan ekskresi volume  natrium dan air .

Perubahan volume dan osmolaritas cairan dapat terjadi pada beberapa keadaan. Sebagai  contoh Faktor-faktor lain yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit diantaranya  ialah umur, suhu lingkungan, diet, stress, dan penyakit.

Keseimbangan Asam-Basa

Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan pengaturan konsentrasi ion H bebas  dalam cairan tubuh.  pH rata-rata darah adalah 7,4, pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35. Jika pH darah < 7,35 dikatakan asidosis, dan jika pH darah > 7,45 dikatakan alkalosis. Ion H  terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. Ion H secara normal dan kontinyu  akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber, yaitu:

1. pembentukan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan   bikarbonat

2. katabolisme zat organik

3.disosiasi asam organic pada metabolisme intermedia, misalnya pada metabolisme   lemak    terbentuk asam lemak dan asam laktat, sebagian asam ini akan berdisosiasi melepaskan ion H.

Fluktuasi konsentrasi ion h dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel, antara lain:

1. perubahan eksitabilitas saraf dan otot; pada asidosis terjadi depresi susunan saraf pusat,     sebalikny pada alkalosis terjadi hipereksitabilitas.

2. mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh.

3. mempengaruhi konsentrasi ion K

Bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti  nilai semula dengan cara:

1. mengaktifkan sistem dapar kimia

2. mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernapasan

3. mekanisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan

Ada 4 sistem dapar kimia, yaitu:

1. Dapar bikarbonat; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel teutama untuk  perubahan yang disebabkan oleh non-bikarbonat.

2. Dapar protein; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel.

3. Dapar hemoglobin; merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam  karbonat.

4. Dapar fosfat; merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel.

Sistem dapar kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementera. Jika dengan  dapar kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka pengontrolan pH akan  dilanjutkan oleh paru-paru yang berespons secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam  darah akibat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernapasan, kemudian mempertahankan  kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut. Ginjal mampu meregulasi  ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan mensekresikan ion H dan menambahkan  bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan ammonia.

Ketidakseimbangan asam-basa

Ada 4 kategori ketidakseimbangan asam-basa, yaitu:

1. Asidosis respiratori, disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi. Pembentukan  H2CO3 meningkat, dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H.

2. Alkalosis respiratori, disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibat  hiperventilasi. Pembentukan H2CO3 menurun sehingga pembentukan ion H menurun.

3. Asidosis metabolik, asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru. Diare akut, diabetes mellitus, olahraga yang terlalu berat, dan asidosis uremia akibat  gagal ginjal  akan menyebabkan penurunan kadar bikarbonat sehingga kadar ion H  bebas meningkat.

4. Alkalosis metabolik, terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena defisiensi  asam non-karbonat. Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat. Hal ini terjadi  karena kehilangan ion H karena muntah-muntah dan minum obat-obat alkalis.  Hilangnya ion H akan menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk menetralisir  bikarbonat, sehingga kadar bikarbonat plasma meningkat.  Untuk mengkompensasi gangguan keseimbangan asam-basa tersebut, fungsi pernapasan dan  ginjal sangat penting.

Daftar Pustaka

1. Sherwood, Lauralee. (2007). Human physiology: From cells to systems. 7th  ed. California: Brooks/ Cole-Thomson Learning, Inc.

2. SIlverthorn, D.U. (2004). Human physiology: An integrated approach. 3rd  ed. San  Francisco: Pearson Education.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

urinalisis

URINALISIS

Pemeriksaan urin tidak hanya dapat memberikan fakta fakta tentang ginjal dan saluran kemih,tetapi juga mengenai faal pelbagai organ dalam tubuh seperti:hati,saluran empedu,pakreas,kortex adrenal,dll.

Pemeriksaan  Rutin

Pemeriksaan rutin,yang sebaiknya dinamakan “pemeriksaan penyaring” ialah beberapa pemeriksaan yang dianggap dasar bagi pemeriksaan selanjutnya dan yang menyertai pemeriksaan badan tanpa pendapat khusus.

Jenis pemeriksaan rutin itu,berbeda beda menurut pandangan yang dianut dalam sesuatu rumah sakit.

  1. Jumlah urin
  2. Makroskopi:warna dan jernihnya urin
  3. Berat jenis
  4. Protein
  5. Glukosa
  6. Pemeriksaan sediment

Jumlah Urin

Mengukur jumlah urin bermanfaat untuk ikut menentukan adanya gangguan faaal ginjal,kelainan dalam keseimbangan cairan badana dan berguna juga untuk menafsirkan hasil pemeriksaan kuantitatif  dan semikuantitatif dengan urin.

Adapun mengukur jumlah uru=in dapat diklakukan dengan :

  1. Urin 24 jam
  2. Urin siang 12 jam dan urin malam 12 jam
  3. Timed specimen pada sesuatu percobaan tertentu
  4. Urin sewaktu

Jumlah urin 24 jam sangat berbeda dari seseorang ke orang lain.banyak sekali faktor yang berpengaruh  kepada dieresis itu ,umpamanya umur,berat badan ,kelamin ,makanan dan minuman,suhu badan,iklim dan aktivitasvorang yang bersangkutan .Rata rata didapat didaerah tropik jumlah urin 24 jam antara 800 – 1300 ml untuk orang dewasa

Jumlah urin  siang normal 12 jam  keadaan normal 2 sampai 4 lebih  besar dari urin malam 12 jam.perbandingan itu tidak berubah ,biarpun misalnya banyaknya minuman pada malam hari dijadikan sama dengan yang siang hari.Perbandingan antara urin siang 12 jam  dan urin malam 12 jam  seperti ditulis tadi,tidak berlaku sepenuhnya pada anak anak.

Penelitian terhadap dieresis urin 24 jam atau 12 jam menentukan adanya kelainan seperti  poliuria dan oliguria yang dapat dipertalikan dengan keadaan klinik tertentu.

Warna Urin

Memperhatikan warna urin  bermakna karena kadang kadang didapat kelainan yang bermakna untuk klinik.Warna urin diuji  pada tebal lapisan 7-10 cm dengan cahaya  tembus ,tindakan itu  dapat dilakukan dengan mengisis tabung reaksi sampai ¾  penuh dan ditinjau  dalam sikap serong.

Nyatakan warna urin dengan:tidak berwarna ,kuning muda, kuning, kuning tua, kuning bercampur merah, merah bercampur kuning, merah, coklat kuning bercampur hijau ,putih serupa susu,dll.

Pada umumnya warna urin ditentukan  oleh besarnya dieresis,makin besar dieresis makin muda warna urin itu,,biasanya warna normal urin berkisar antara kuning muda dan kuning tua.warna itu disebabkan oleh beberapa macam zat warna,terutama urochrom dan urobilin.

Berberapa sebab warna urin

Kuning

  1. Zat warna normal dalam jumlah besar: urochrom dan urobilin.
  2. Zat warna abnormal: bilirubin
  3. Obat obat dan diagnostika:sanatonin ,PSV,riboflavin dan lain lain

Hijau

  1. Zat warna abnormal dalam jumlah besar:indikan
  2. Obat obat dan diagnostika:methylenblue,Evan’s blue
  3. Kuman kuman:Ps.aeruginosa

Merah

  1. Zat warna normal dalam jumlah besar:uroerythrin.
  2. Zat warna abnormal:hemoglobin,porfirin,porfobilin.
  3. Obat obat dan diagnostika: santonin,psp,amidoprin dan lain lain
  4. Kuman kuman:B.poridigous

Coklat

  1. Zat warna normal dalam jumlah besar:urobilin
  2. Zat warna abnormal:bilirubin,hematin,porfobilin

Coklat tua atau hitam

  1. Zat warna normal dalam jumlah besar:indikan
  2. Zat warna abnormal:darah tua,alkapton.melamin
  3. Obat obat:derivate derivate fenol,argyol

Serupa susu

  1. Zat warna normal dalam jumlah besar:fosfat,urat
  2. Zat warna abnormal:pus.getah pospat,shylus

Kejernihan

Cara mengujji kejernihan sama seperti menguji warna.Nyatakan pendapat dengan:jernih,agak keruh,keruh atau sangat keruh.

Pentinglah untuk menemukan apakah urin itu telah keruh pada waktu dikeluarkan atau baru kemudian,yaitu jika dibiarkan.

Tidak semua macam kekeruhan bersifat abnormal.Urin normalpun akan menjadi agak keruh jika dibiarkan atau didinginkan:kekeruhan ringan itu disebut nubecula dan terjadi dari lender,sel epitel dan leukosit.

Sebab sebab urin keruh dari mula mula

  1. Fosfat amorf dan karbonat dalam jumlah besar.Mungkin terjadi setelah seseorang makan banyak.Kekeruhan itu hilang jika urin diberikan asam asetat encer.Sediment mengandung banyak Kristal fosfat atau karbonat
  2. Bakteri bakteri.Kekeruhan yang terjadi bukan saja disebabkan oleh berkembangbiaknya kuman,tetapi juga oleh bertambahnya unsure sediment seperti sel epitel,leukosit,dsb.
  3. Unsure unsure sediment dalam junlah besar.
    1. Eritrosit eritosit yang menyebabkan urin menjadi keruh dan berupa serupa air daging
    2. Leukosit leukosit: adanya dibenarkan dengan pemeriksaan mikroskopik sediment.
    3. Sel sel epitel.akan terlihat juga dalam sediment pada pemeriksaan lebih lanjut.
  1. Chylus dan lemak .Urin keruh menyerupai susu encer.Jika kekeruhan disebabkan oleh adanya butir butir lemak (lipuria),maka pada pemeriksaan mikroskop dapat dilihat butir butir lemak.Kalau urin yang bercampur chylus atau lemak kocok dengan ether ,kemudian ether itu diteteskan kepada sepotong kertas,akan ketinggaalan bacak lemak pada kertas tadi.
  2. Benda benda koloid

Berat Jenis

Penetapan berat jenis urin biasanya cukup teliti dengan menggunakan urinometer.Apabila sering melakukan penetapan berat jenis dengan contoh urin yang volumenya kecil,sebaiknya memakai refraktometer untuk tujuan itu.

Berat jenis urin sangat erat hubunganya dengan dieresis,makin besar diuresis, makin rendah berat jenis dan sebaliknya.Berat jenis urin 24 jam dari orang normal biasanya berkisar antara ,1,016 – 1,024.

Derajat  Keasaman Urin

Penetapan reaksi atau PH urin tidak banyak berarti dalam pemeriksaan penyaring.Akan tetapi pada gangguan keseimbangan asam basa penetapan itu dapat member kesan tentang keadaan dalam tubuh,apalagi bila disertai penetapan jumlah asam yang diekskresikan dalam waktu tertentu,jumlah ion NH4,dsb.

Uji keasaman urin bisa dilakukan dengan pemeriksaan berikut:kertas lakmus,carik celup,kertas nitrazin,dan ph meter

Penetapan asam basa dengan kertas lakmus

Prinsip: perubahan warna kertas lakmus dalam suasana keasaman tertentu

Tujuan: mengetahui pH urine

Alat yang dipakai: kertas lakmus merah – biru
Cara pemeriksaan:

  1. Kertas lakmus merah atau biru dibasahi urine
  2. Tunggu 1 menit, perhatikan perubahan warna yang terjadi

Pelaporan:

  1. Urine asam: lakmus biru → merah
  2. Urine basa: lakmus merah → biru
  3. Urine netral: lakmus merah/biru tidak berubah warna

Protein

Pemeriksaaan terhadap protein termasuk pemeriksaan rutin.Kebanyakan cara rutin untuk menyatakan adanya protein dalam urin berdasarkan pada timbulnya kekeruhan.Karena padatnya atau kasarnya kekeruhan itu menjadi satu ukuran untuk jumlah protein yang ada,maka menggunakan urin yang jernih betul menjadi syarat penting pada test test terhadap protein

Jika urin yang akan diperiksa jernih,boleh terus dipakai,kalau pakailah cairan atas dari urim pusingan atau filtrate urin.Seandainya cairan atas dari urim pusingan atau filtrate tidak mau menjadi jernih,berilah kepada satu volume urin 1/10 volume keiselguhr atau carbo adsorbens,kocoklah kuat kuat dan saringlah berulang ulang sampai mendapat filtrate jernih.

Cara menilai hasil ini berlaku baik untuk tes dengan asam sulfosalicyl,maupun test dengan asam asetat.Cara penilaian ini menghindarkan adanya penilaian la[oran yang meragukan dengan member batas batsa tegas antara derajat kepositifan.

Negatif                                               Tidak ada kekeruhan sedikit juga

Positif   +                  atau 1 +             Ada kekeruhan ringan tanpa

butir butir,kadar protein kira kira

0,01 – 0,05

            Positif   + +               atau 2 +                 kekeruhan mudah dapat dilihat

dan Nampak butir butir dalam

kekeruhan itu ( 0,05-0,2)

Positif   + + +            atau 3 +                Urin jelas keruh dan kekeruhan

Itu berkeping keping (0,2-0,5)

 Positif   + + + +        atau 4 +             urin sangat keruh  dan

kekeruhan berkeping keeping dan

bergumpal ataupun memadat

(lebih dari 0,5 %). Jika dapat lebih dari

3% protein akan terjadi bekuan

Glukosa

Pemeriksaan terhadap adanya glukosa dalam urin termasuk pemeriksaan penyaring.menyatakan adanya glukosa dapat dilakukan dengan cara yang berbeda beda asasnya.Cara yang tidak spesifik menggunakan sifat glukosa sebagai zat pereduksi,pada test semacam itu terdapat suatu zat dalam reagens yang berubah warna dan sifatnya jika direduksi oleh glukosa.Diantara banyak macam reagens yang dapat dipakai untuk menyatakan adanya reduksi yang mengandung garam cuprilah banyak dipergunakan.

Glukosa dapat dibuktikan juga dengan cara spesifik yang menggunakan enzim glukosa –oxidasa untuk merintis serentetan reaksi dan berakhir dengan perubahan warna dalam reagens yang digunakan.

Cara benedict

  1. Masukkan 5ml reagens benedict ke dalam tabung reaksi
  2. Teteskan sebanyak 5- 8 tetes uria ke dalam tabung
  3. Masukkanlah tabung itu kedalam air mendidih selama 5 menit
  4. Angkatlah tabung ,kocoklah isinya dan baca hasil eduksinya.

Menilai hasil

Negatif                                               tetap biru jernih atau sedikit

kehijau hijauan dan agak keruh

Positif   +                  atau 1 +             hijau kekuning kuningan dan

Keruh ( 0,5 -1% glukosa)

            Positif   + +               atau 2 +                 kuning keruh ( 1 -1,5% glukosa)

Positif   + + +            atau 3 +                jingga atau kuning keruh

(2 -3,5% glukosa)

           Positif   + + + +        atau 4 +             merah keruh (lebih dari 3,5%                                                                                         glukosa)

PEMERIKSAAN SEDIMEN URINE

Pemeriksaan sediment urin termasuk pemeriksaan rutin.Urinyang dipakai itu ialah urin segar atau urin yang dikumpulkan dengan pengawet .Yang paling baik untuk pemeriksaan urin adalah urin pekat,yaitu yang mempunyai berat jen is 1023 atau lebih tinggi ,urin yang pekat lebih muda didapat bila memakai urin pagi sebagai pemeriksaan.
Cara pemeriksaan  (mikroskopi):

  1. Kocok urine dalam botol agar sedimen merata
  2. Masukan urine dalam tabung sentrifuge 10 –15 cc → sentrifuge selama 5 menit dengan kecepatan 2000 rpm
  3. Tuang bagian atas urine → tinggal 0,5 – 1 cc → kocok kembali sedimen
  4. Tuang dalam obyek glass, tutup dengan cover glass → periksa dibawah mikroskop

Hasil yang mungkin ditemukan ( unsure unsure sediment):

  1. Organik
    1. Epitel
    2. eritrosit,
    3. lekosit,
    4. silinder
    5. Kristal
    6. jamur, trikomonas
    7. spermatozoa
  1. Anorganik
    1. Bahan amorf
    2. Kristal Kristal normal:calcium oxalate,ammonium-magnesium dll
    3. Kristal Kristal yang menunjukkan urin abnormal:cystine,leucine,tyrosine,dll
Posted in Uncategorized | Leave a comment